Universitas Paramadina dan Lembaga Survei KedaiKOPI menggelar aktivitas peluncuran dan bedah kitab berjudul "Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo: Komunikasi Politik, Ekonomi, dan Momentum Perubahan di Peralihan Zaman" di Auditorium Benny Subianto, Universitas Paramadina, Trinity Tower, Jakarta Selatan, Rabu (10/6).
Sumitro Djojohadikusumo adalah ayah dari Presiden Prabowo Subianto. Ia merupakan negarawan Indonesia dan salah satu ahli ekonomi paling berpengaruh. Sumitro pernah menjabat sebagai menteri di bawah pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto secara bergantian antara 1950 hingga 1978.
Penulis kitab sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, menjelaskan kitab ini ditulis menggunakan pendekatan komunikasi publik untuk memahami pemikiran Sumitro nan diterjemahkan oleh Prabowo saat ini.
"Buku 'Estafet Ideologi dari Sumitro ke Prabowo' ini saya tulis dalam rangka untuk mencoba memahami kira-kira pemikiran Sumitro waktu itu nan diterjemahkan oleh Pak Prabowo hari ini seperti apa, sebesar apa, dan kemudian semasif apa perbedaan nan sangat signifikan," ujar Hendri Satrio di letak acara.
Hendri menjelaskan bahwa estafet nan dia maksud bukan berfaedah Sumitro memberikan tongkat pendapat kepada Prabowo, melainkan Prabowo sendiri nan mengambil tongkat Sumitro untuk meneruskan gagasan-gagasannya.
"Estafet ini juga jangan diartikan bahwa Sumitro memberikan tongkat ke Pak Prabowo, tapi saya mengartikan estafet ini justru Pak Prabowo nan mengambil tongkat dari Sumitro untuk meneruskan gagasan-gagasannya dalam menyejahterakan Indonesia," lanjutnya.
Diapresiasi
Menteri Koperasi nan juga politikus Gerindra, Ferry Juliantono, mengapresiasi keberanian penulisan kitab ini di tengah minimnya pembahasan ideologi di ruang publik saat ini.
"Jarang-jarang ada kitab nan membahas tentang ideologi. Jadi Pak Hendri Satrio ini kita kudu acungi jempol, punya keberanian untuk membicarakan tentang ideologi nan sekarang menurut saya, diskursus wacana publik itu jarang membicarakan tentang ideologi," kata Ferry.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, nan membuka aktivitas menilai karya ini sukses mendokumentasikan pemikiran Sumitro mengenai ekonomi kerakyatan.
"Buku ini merupakan sebuah kitab nan berupaya mendokumentasikan sebuah pemikiran nan berkarakter ideologis dari Pak Sumitro Djojohadikusumo, orang tua dari Pak Presiden Prabowo, nan merupakan pemikiran ekonomi kerakyatan, menerjemahkan Pasal 33 UUD RI dan kemudian gimana ekonomi itu dioperasionalkan," jelas Misbakhun
Sementara itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, memaknai tema estafet ini sebagai dasar ideologis Prabowo untuk melakukan perihal nan betul ke depannya.
"Tema estafet ideologi ini menarik lantaran ideologi pada dasarnya adalah tentang doing right things alias melakukan suatu perihal nan benar. Poin utamanya adalah gimana Pak Prabowo bisa meyakini bahwa apa nan beliau lakukan adalah perihal nan benar, sehingga kebenaran tersebut juga dieksekusi dengan langkah nan benar," papar Budiman.
Selain para pejabat negara, master ekonomi dari Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, serta pengajar Universitas Paramadina, Wachid Ridwan, juga tampak datang sebagai pembahas utama dalam forum tersebut.
Ninasapti memaparkan bahwa dalam karya tersebut, pemikiran Sumitro bisa diterjemahkan ke dalam Asta Cita pada program pembangunan Prabowo.
"Pemikiran Sumitro kemudian diterjemahkan ke dalam Asta Cita nan merupakan program pembangunan Prabowo, namun dengan penekanan pada pentingnya memperkokoh kerangka pertahanan dan keamanan sesuai dengan dasar negara Pancasila, prinsip demokrasi, dan kewenangan asasi manusia," ucap Ninasapti.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·