Heboh 'Sell Indonesia' Usai Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buka Suara

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons soal 'sell Indonesia' nan disorot media internasional. Fenomena ini muncul di tengah tekanan dahsyat terhadap kurs rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Purbaya menilai kejadian 'sell Indonesia' belum tentu menggambarkan kondisi ekonomi nasional secara utuh. Ia apalagi menyinggung salah satu tulisan nan dimuat media internasional tersebut tidak sepenuhnya memahami kondisi ekonomi Indonesia.

"Itu kan diterbitkan, itu tren jual Indonesia saya baca di Bloomberg ya, salah satu penulis mungkin nggak tau keadaan Indonesia seperti apa," sebut Purbaya di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya mengaku sengaja mempercepat publikasi laporan APBN KiTA untuk menunjukkan kepada pelaku pasar bahwa kondisi fiskal Indonesia terjaga dengan baik. Langkah tersebut dilakukan agar penanammodal mendapatkan gambaran nan lebih jeli mengenai kondisi ekonomi domestik.

"Ketika kemarin, makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat, sehingga kelak lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang," imbuh Purbaya.

Purbaya membujuk penanammodal mencermati data-data ekonomi Indonesia secara lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Ia menegaskan esensial ekonomi nasional saat ini tetap berada dalam kondisi nan baik.

"Jadi, teman-teman penanammodal tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa. nan bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden tetap cukup kuat untuk memastikan semua melangkah sesuai dengan strategi pembangunan presiden," tuturnya.

Media internasional, Bloomberg menyoroti anjloknya IHSG 36% sepanjang 2026. Penurunan itu menjadikannya pasar saham dengan keahlian terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks dunia nan dipantau Bloomberg.

Sementara itu, rupiah telah melemah lebih dari 7%, dan penanammodal asing menarik biaya miliaran dolar AS dari pasar obligasi Indonesia. Situasi ini menjadi perubahan drastis bagi Indonesia, negara kaya komoditas nan selama ini menjadi salah satu tujuan utama investasi di portofolio pasar negara berkembang.

"Perdagangan paling terkenal di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," kata George Boubouras, Kepala Riset di K2 Asset Management, hedge fund nan mengelola biaya sekitar US$ 4,3 miliar.

(ily/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance