Hasil Belum Dirilis, Amran Beberkan Update Uji Lab Fortifikasi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman memberikan pembaruan terbaru mengenai hasil pemeriksaan laboratorium beras fortifikasi nan sebelumnya ditemukan tidak sesuai standar.

Amran mengatakan, hasil pemeriksaan tersebut tetap ditunggu. Saat ditanya mengenai kepastian kapan hasil uji laboratorium bakal diumumkan, dia belum memberikan tanggal pasti.

"Ya berdoa. Tunggu," kata Amran saat ditemui di instansi Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Ketika kembali ditanya mengenai kemungkinan adanya temuan baru alias perkembangan lebih lanjut dari hasil pemeriksaan beras fortifikasi, Amran meminta publik menunggu.

"Tunggu saja undangannya," tegasnya.

Adapun mengenai rencana penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) unik beras fortifikasi, pemerintah belum mengambil keputusan. Ia mengatakan kebijakan tersebut tetap bakal dikaji.

"Nanti kita kaji," tutur dia.

Sebelumnya, Amran mengungkap hasil pemeriksaan empat laboratorium menunjukkan lebih dari 90% beras fortifikasi nan diperiksa tidak sesuai standar.

Temuan itu disampaikan Amran dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9/2026).

"Izin Bu, 90% itu tidak betul (tidak sesuai standar). Dulu, nan seperti ini dialihkan dari beras medium ke premium. Sekarang alhamdulillah ini sudah baik. Ternyata pindah kelakuan ini ke fortifikasi nan tidak ada vitaminnya, Bu. Nggak ada di dalamnya (kandungan vitamin)," kata Amran dalam rapat.

"Kita periksa pakai lab, beberapa lab, itu 4 lab, 90% tidak ada vitamin, hanya tulisannya saja. Nah ini tugas kami dengan penegak hukum, Satgas Pangan," sambungnya.

Bapanas juga mencatat dari pengawasan beras fortifikasi di seluruh Indonesia, sebanyak 27 dari 28 merek nan diperiksa berstatus Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Hanya satu merek nan dinyatakan memenuhi syarat.

Persoalan ini menjadi perhatian lantaran beras tersebut dipasarkan menggunakan label fortifikasi, tetapi kandungan vitamin nan diklaim tidak ditemukan dalam pemeriksaan laboratorium.

"Nggak (ada kandungan vitaminnya), tulisan aja. Di-claim saja. Mereknya fortifikasi tapi tidak ada isinya. Jadi izin, Bu, kelak kami tindaklanjuti," tegas Amran.

Temuan tersebut juga berangkaian dengan perbedaan nilai nan cukup tinggi. Bapanas mencatat nilai rata-rata beras fortifikasi nan tidak memenuhi syarat mencapai Rp23.385 per kg, sedangkan beras pembanding berada di level Rp13.689 per kg.

Dengan selisih sekitar Rp9.695 per kg, Amran sebelumnya memperkirakan potensi kerugian konsumen dapat mencapai Rp89,19 triliun, dengan dugaan konsumsi beras nasional sebesar 9,2 juta ton per tahun.

"Ini swasta. Jadi ini beras swasta sebenarnya harganya Rp13.500-Rp14.000 per kg. Ini kan premium kita Rp14.900 (per kg). Ini dijual Rp40.000 (per kg) dengan label fortifikas," jelasnya.

Amran mengatakan, Bapanas tetap menyusun laporan berasas hasil pemeriksaan dari empat laboratorium. Saat itu, dia menyebut hasil pemeriksaan dari keempat laboratorium menunjukkan temuan nan sama.

"(Saat ini) sudah menyusun laporan. Sudah ada hasil dari empat lab nan memeriksa. Hasilnya sama. nan tidak sesuai standar, nan ketentuan kita, itu 90% lebih," kata Amran ditemui usai rapat.

Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya bakal direkap berbareng info pendukung sebelum diserahkan kepada Satgas Pangan untuk ditindaklanjuti.

"Nanti kita setelah merekap baik-baik, menyusun laporannya dengan baik, baru serahkan ke Satgas Pangan," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News