
Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo berpidato pada Bimtek Perindo 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, 28 Juli 2026. (Foto: Aziz Indra)
JAKARTA - Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo menyoroti akibat ketidakpastian dunia terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga kenaikan nilai minyak dunia. Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya bakal dirasakan seluruh lapisan masyarakat, terutama golongan ekonomi bawah.
Hal itu disampaikan Hary saat memberikan pengarahan dalam pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) 2026 Partai Perindo di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Hary mengatakan situasi dunia saat ini dipenuhi beragam gejolak, mulai dari bentrok geopolitik hingga perang jual beli nan berakibat pada ekonomi beragam negara, termasuk Indonesia.
"Jadi oleh karenanya, situasi dunia ini sangat, sangat tidak menentu. Kita tahu semua. Akibatnya apa? Dampaknya di Indonesia luar biasa. Rupiah tembus 18.000, hari ini berapa rupiahnya?" kata Hary.
Ia juga menyinggung kenaikan nilai minyak bumi nan dinilai memberi tekanan tambahan bagi Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak.
"Harga minyak naik, kemarin 90 dolar, minggu lampau 100 dolar. Dan itu dampaknya besar lantaran kita net importer," ujarnya.
Menurut Hary, kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan nilai minyak bakal membikin nilai beragam kebutuhan ikut meningkat lantaran banyak komponen peralatan tetap berjuntai pada impor.
"Dengan kurs nan melemah juga, hasilnya apa? Barang-barang itu mahal. Semua bakal kena. Semua lapisan masyarakat bakal kena. Mau bangun rumah pasti biayanya lebih tinggi. Barang apa pun juga pasti lebih tinggi harganya lantaran tiap unsur peralatan itu ada unsur impor nan dibiayai dengan dolar," tuturnya.
"Jadi semua lapisan masyarakat kena, dan nan paling terpukul tentunya lapisan masyarakat bawah. Ada perubahan sedikit pasti mereka sangat menderita. Itu nan terjadi di Indonesia sekarang," sambungnya.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·