Harta Karun Incaran Dunia Ternyata Ada di Mamuju!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Pemerintah membahas pengembangan rare earth element (REE) alias logam tanah jarang (LTJ) nan yang disebut sebagai salah satu kekayaan karun daya sasaran dunia.

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan pilot proyek hilirisasi logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat.

Ini ditandai dengan adanya rapat nan dilakukan di BP BUMN, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, terlihat Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa dan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tri menjelaskan pembahasan dalam pertemuan tersebut berangkaian dengan pengembangan logam tanah jarang di Mamuju.

Meski begitu, Tri tidak menjelaskan perincian mengenai pengembangan logam tanah jarang di wilayah Mamuju tersebut.

"Pembahasan ini aja, apa, Mamuju. Ini lah pengembangan seperti apa untuk rare komponen kira-kira gitu. Ya saya kan diundang," ujar Tri saat ditemui usai rapat di BP BUMN, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Sebelumnya, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto mengatakan BUMN baru buatan Danantara, Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), bakal menggarap pilot proyek hilirisasi logam tanah jarang (rare earth) di Mamuju, Sulawesi Barat.

Ia mengatakan proyek pilot ini melangkah paralel dengan proses manajemen dan rekomendasi nan telah disampaikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), khususnya mengenai publikasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada Perminas.

"Mungkin ini nan dalam waktu dekat bakal segera kita lakukan ialah pilot teknologi hilirisasi rare earth nan ada di Mamuju," ujarnya dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Senin (9/2/2026).

Brian mengatakan Perminas bakal membangun dua akomodasi downstreaming sebagai proyek percontohan teknologi pengolahan logam tanah jarang berbasis riset nan telah dikembangkan di perguruan tinggi.

Proyek diharapkan bisa melakukan pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang, sehingga bahan baku nan semula berbentuk ore dapat diolah menjadi mixed rare earth maupun elemen-elemen rare earth berbobot ekonomi.

Pasalnya sejumlah negara nan telah mempunyai teknologi ini tidak mau melakukan kerja sama strategis dengan negara lainnya.

"Kita coba teknologi-teknologi nan sudah dikembangkan di kampus untuk mengekstraksi alias merubah dari mineral ore nan mengandung logam tanah jarang menjadi mixed rare earth oxide," katanya.

Brian menambahkan Perminas membuka peluangkerja sama dengan beragam pihak, termasuk swasta dan mitra lainnya, untuk membangun industri nan lebih mengarah ke hilirisasi.

Hal ini dilakukan lantaran pemerintah menilai keberhasilan pengelolaan logam tanah jarang di sejumlah negara ditentukan oleh keahlian mereka menarik dan membangun industri hilir di dalam negeri.

"Sehingga diharapkan kita bisa menunjukkan kepada bumi bahwa Indonesia juga menjadi pemain nan strategis untuk industri rare earth ini, mineral rare earth, nan diharapkan juga memberikan daya tarik bagi negara lain untuk berani juga masuk bersama-sama Indonesia mendirikan industri-industri downstreaming," ujarnya.

(hrp/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance