Setiap Hari Kartini datang, kita sering merayakannya dengan langkah nan sama. Namun di kembali itu, ada satu pertanyaan nan jarang betul-betul dijawab: apakah wanita di Indonesia sudah betul-betul setara?
Jawabannya tidak sesederhana iya alias tidak.
Akses Sudah Terbuka, Tapi Belum Sepenuhnya Setara
Jika memandang data, kemajuan wanita Indonesia memang tidak bisa dipungkiri. Akses terhadap pendidikan semakin terbuka, dan partisipasi wanita dalam beragam sektor terus meningkat.
Namun ketika masuk ke bumi kerja, kesenjangan tetap terlihat jelas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja wanita berada di kisaran 54 persen, sementara laki-laki mencapai lebih dari 80 persen.
Artinya, persoalannya bukan lagi soal boleh alias tidak, tetapi sejauh mana wanita betul-betul mempunyai kesempatan nan sama.
Masuk Ruang, Tapi Belum Sepenuhnya Didengar
Keterlibatan wanita dalam ruang pengambilan keputusan juga mengalami peningkatan, tetapi belum optimal. Representasi wanita di lembaga legislatif tetap belum sepenuhnya mencapai sasaran afirmasi.
Padahal, beragam studi global, termasuk dari World Bank, menunjukkan bahwa kehadiran wanita dalam proses pengambilan kebijakan berkontribusi pada kebijakan nan lebih inklusif dan responsif.
Masalahnya bukan lagi soal wanita boleh masuk ruang publik alias tidak. Masalahnya, apakah mereka betul-betul punya ruang nan setara di dalamnya.
Kebijakan Sudah Ada, Tapi Implementasi Masih Tertinggal
Indonesia sebenarnya telah mempunyai strategi pengarusutamaan kelamin dalam pembangunan. Namun, implementasinya tetap menjadi tantangan.
World Bank mencatat bahwa di banyak negara berkembang, kesenjangan sering terjadi bukan pada kreasi kebijakan, tetapi pada pelaksanaannya. Hal nan sama juga terlihat di Indonesia.
Banyak program sudah dirancang dengan perspektif gender, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perencanaan dan penganggaran di semua level pemerintahan.
Kepemimpinan Perempuan Masih Perlu Diperluas
Di tengah tantangan dunia nan semakin kompleks, kebutuhan bakal kepemimpinan nan inklusif semakin besar. Perempuan membawa perspektif nan berbeda, terutama dalam rumor sosial, pendidikan, dan kesejahteraan.
Namun, untuk mendorong lebih banyak wanita berada di posisi strategis, dibutuhkan lebih dari sekadar kesempatan formal. Hambatan struktural seperti stereotip, beban ganda, hingga keterbatasan jejaring tetap menjadi kenyataan.
World Bank juga menegaskan bahwa peningkatan partisipasi wanita dalam ekonomi dapat mendorong pertumbuhan nan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Hari Kartini Bukan Sekadar Seremoni
Refleksi Hari Kartini hari ini tidak cukup dimaknai sebagai simbol perjuangan masa lalu. Ia kudu dibaca sebagai agenda nan tetap berjalan.
Kesetaraan tidak cukup hanya diukur dari akses, tetapi dari hasil nan dirasakan. Apakah wanita betul-betul mempunyai kesempatan nan sama untuk berkembang? Apakah kebijakan sudah cukup responsif terhadap kebutuhan mereka?
Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumahnya tetap ada.
Mungkin pertanyaan nan perlu kita ajukan hari ini bukan lagi apa nan telah diperjuangkan Kartini, tetapi apa nan belum selesai kita lanjutkan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·