Ilustrasi(Antara)
WAKIL Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei kudu menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi total ekosistem literasi di Indonesia. Menurutnya, keahlian literasi bukan sekadar hobi, melainkan fondasi utama bagi kemajuan peradaban dan kedaulatan bangsa.
“Kemampuan literasi masyarakat nan baik merupakan salah satu penanda bahwa suatu bangsa itu mempunyai peradaban nan maju,” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/5).
Data Literasi 2025: Alarm Bagi Bangsa
Meski diperingati setiap tahun sejak 2002, kondisi literasi di tanah air justru menunjukkan tren nan mengkhawatirkan. Berdasarkan info terbaru nan dihimpun dari beragam sumber otoritatif, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam minat dan keahlian baca:
- Penurunan Indeks: Indeks kegemaran membaca masyarakat merosot tajam dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025 (Data Perpusnas/BPS).
- Durasi Baca: Rata-rata orang Indonesia hanya membaca 129 jam per tahun, tertinggal jauh dari India (352 jam) dan Amerika Serikat (357 jam).
- Krisis Kognitif: Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan keahlian inferensial siswa hanya 43,21% dan keahlian pertimbangan teks baru mencapai 45,32%.
Rerie, sapaan berkawan Lestari, menilai rendahnya keahlian inferensial—yakni kecakapan menarik konklusi dan berpikir kritis—adalah ancaman nyata. “Tantangan kita bukan lagi sekadar memberantas buta aksara, tetapi menciptakan masyarakat nan bisa berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” tegasnya.
Gen Z: Secercah Harapan di Tengah Krisis
Di kembali info nan memprihatinkan, muncul anomali positif dari generasi muda. Survei GoodStats semester II 2025 mencatat aktivitas membaca Generasi Z mencapai 26%, nomor ini lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial (20%) dan Gen X (18%).
Anggota Komisi X DPR RI ini mendesak agar tren positif di kalangan Gen Z ini didukung dengan kebijakan nan konkret. Ia mengusulkan empat langkah strategis:
- Revitalisasi Komunitas: Mendorong organisasi baca berbasis digital dan bentuk sebagai ruang budaya literasi nan hidup.
- Reformasi Pendidikan: Mengubah orientasi tugas sekolah dari sekadar membaca menjadi aktivitas berpikir kritis dan analisis.
- Aksesibilitas: Memastikan perpustakaan wilayah mempunyai koleksi kitab bentuk dan digital nan komplit dan mutakhir.
- Intervensi Ekonomi: Menurunkan nilai kitab melalui penghapusan pajak kitab dan pemberian keringanan nilai kertas.
Sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, Rerie berambisi kerjasama lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dapat menjadikan literasi sebagai aktivitas nasional nan terukur.
“Jika generasi penerus tak bisa menelaah info melalui keahlian literasinya, perihal itu berpotensi menggerus kedaulatan bangsa,” pungkasnya.
Catatan: Hari Buku Nasional dicetuskan pertama kali pada 17 Mei 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tahun 1980.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·