Feby Novalius
, Jurnalis-Jum'at, 10 April 2026 |18:10 WIB

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik tetap tinggi, mencapai 55 persen. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA - Pemerintah sedang menyiapkan strategi komprehensif untuk menghadapi lonjakan nilai plastik nan berakibat langsung pada keberlangsungan upaya pengusaha UMKM, khususnya di bagian makanan dan minuman.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik tetap tinggi, mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen pengedaran bahan baku melewati jalur Selat Hormuz nan saat ini terdampak bentrok geopolitik, sehingga mengganggu rantai pasok global.
“Nafta nan menjadi bahan baku utama plastik sebagian besar berasal dari negara-negara Timur Tengah. Kondisi bentrok geopolitik ini menghalang pengedaran nafta dan mendorong kenaikan nilai plastik secara signifikan,” ujar Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa kelangkaan nafta telah menurunkan kapabilitas produksi plastik, apalagi menyebabkan sejumlah lini produksi terhenti. Dampaknya, nilai plastik di tingkat satuan meningkat tajam dan menekan keahlian pengusaha UMKM, dengan penurunan omzet hingga 50 persen.
Padahal, kebanyakan pengusaha UMKM bagian makanan dan minuman tetap berjuntai pada bungkusan plastik. Industri bungkusan plastik dalam negeri sendiri mendominasi pasar hingga 67,61 persen pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor terbesar.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah berbareng Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, pemerintah membuka pengganti pasokan nafta dari area nan relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Proses manajemen sedang disiapkan agar pengedaran bahan baku dapat segera berjalan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·