Ilustrasi(Antara)
HARGA berbagai komoditas pangan pokok di Kota Depok, Jawa Barat, terpantau tetap tertahan di level tinggi dan belum menunjukkan tren penurunan pasca kenaikan nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax. Fenomena ini diperparah oleh gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem nan memicu kandas panen di tingkat petani.
Berdasarkan pantauan di Pasar Cisalak pada Selasa (16/6/2026), lonjakan nilai terjadi pada nyaris seluruh lini kebutuhan dapur. Cabai rawit hijau sekarang menyentuh nomor Rp50.000 per kg, setara dengan nilai bawang merah nan juga memperkuat di kisaran rata-rata Rp50.000 per kg. Sementara itu, bawang putih dibanderol Rp40.000 per kg.
Daftar Harga Pangan di Kota Depok (16 Juni 2026):
| Cabai Rawit Hijau | Rp50.000 /kg |
| Bawang Merah | Rp50.000 /kg |
| Minyakita (Bersubsidi) | Rp21.000 /liter |
| Daging Sapi | Rp150.000 - Rp160.000 /kg |
| Daging Ayam Ras | Rp42.000 /kg |
| Beras Premium | > Rp13.500 /kg |
Efek Domino Kenaikan BBM Pertamax
Marsinah (60), salah satu pedagang di Pasar Cisalak, mengungkapkan bahwa kenaikan nilai BBM Pertamax menjadi pemicu utama membengkaknya ongkos angkut logistik. "Distribusi bahan pangan dari wilayah produksi ke pasar memerlukan transportasi. Saat nilai BBM naik, ongkos kirim membengkak dan dibebankan ke nilai akhir komoditas," jelasnya.
Selain masalah distribusi, sektor hulu juga terdampak signifikan. Bonglim (33), pedagang lainnya, menyebut bahwa operasional mesin pertanian seperti traktor dan pompa air nan berjuntai pada BBM turut meningkatkan biaya produksi petani, nan pada akhirnya mengerek nilai jual di pasar.
Krisis Iklim dan Gangguan Distribusi
Kepala UPTD Pasar Cisalak Kota Depok, Budi Haryanto, menegaskan bahwa situasi ini merupakan kombinasi dari krisis suasana dan anomali cuaca. Perubahan pola hujan nan tidak menentu menyebabkan musim tanam bergeser dan meningkatkan akibat kandas panen akibat serangan hama.
"Kenaikan BBM memicu pengaruh domino nan secara langsung meningkatkan biaya pengedaran pangan. Hal ini menyebabkan lonjakan nilai komoditas lebih dari 30 persen. Mahalnya biaya operasional sangat membebani pedagang hingga nilai bahan pokok meroket tajam," pungkas Budi.
Di sisi lain, arga minyak goreng bungkusan bermerek apalagi telah mencapai Rp23.000 per liter, sementara minyak goreng curah melonjak ke nomor Rp19.000 per liter. Masyarakat berambisi pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk menekan nilai nan kian tidak terkendali. (KG/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·