Pembeli memilih bungkusan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026).(Antara)
ALAMI kenaikan nilai cukup tinggi, pedagang plastik mengalami penurunan omzet nan cukup tinggi.
Seperti terjadi di Pasar Kadipaten menunjukkan nilai beragam jenis bahan plastik mengalami kenaikan tajam hingga dua kali lipat. Kenaikan terjadi nyaris di seluruh produk, mulai dari sedotan, kantong plastik, plastik es, gelas cup, dan lainnya.
“Lonjakan nilai terjadi secara menyeluruh dalam waktu singkat. Situasi ini memaksa pedagang lebih berhati-hati dalam mengatur pembelian peralatan agar kami tidak merugi,” tutur Tresna, seorang pedagang plastik di pasar tersebut, Rabu (8/4).
Dijelaskan Tresna, kenaikan plastik mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa dan hingga sekarang tetap terus berjalan dengan perubahan nan susah diprediksi.
“Lonjakan nilai membikin kebutuhan modal meningkat drastis untuk mendapatkan jumlah peralatan nan sama,” tutur Tresna.
Jika sebelumnya dengan modal Rp2,5 juta bisa memperoleh sekitar 10 dus barang, sekarang dibutuhkan hingga Rp5 juta.
“Sekarang terpaksa shopping tiap hari agar bisa mengikuti perubahan harga. Kenaikannya sigap berubah, kadang hari ini beli, besok sudah beda lagi,” tutur Tresna. Kondisi inilah nan membikin penjual seperti mereka pusing.
Dampak kenaikan harga plastik turut dirasakan pelaku upaya minuman, khususnya penjual es nan berjuntai pada bahan bungkusan plastik. Kenaikan biaya produksi memaksa sebagian pedagang menyesuaikan nilai jual agar upaya tetap berjalan.
Muhammad Rizki, pedagang es, menuturkan kenaikan nilai bahan baku terjadi cukup signifikan dan berjalan nyaris setiap hari. “Kenaikannya cukup tinggi dan terus berubah. Bahkan nan naik bukan hanya plastik, bahan lain seperti buah juga ikut naik,” katanya.
Ia mengaku meningkatkan nilai jual produknya dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per cup untuk menutupi kenaikan biaya produksi, meski kenaikan bahan baku mencapai sekitar 50 persen.
“Kalau tidak dinaikkan, tidak nutup modal. Tapi saya hanya naikkan sekitar 20 persen agar tetap terjangkau,” tutur Rizki.
Namun Rizki juga mengaku, meski telah melakukan penyesuaian harga, dia menyebut omzet penjualan tetap menurun akibat melemahnya daya beli masyarakat. (UL/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·