Harga Minyak RI (ICP) Rata-Rata Januari-Mei 2026 Tembus US$ 91,8/Barel

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat mengalami tren kenaikan terhitung sejak awal tahun 2026. Per Mei 2026, ICP sudah mencapai level US$ 106,56 per barel, meningkat 65% dibanding ICP Januari 2026 di level US$ 64,41 per barel.

Mengacu info Kementerian ESDM, ICP Januari 2026 tercatat di level US$ 64,41 per barel. Meningkat pada Februari 2026 di level US$ 68,79 per barel. Kemudian kembali meningkat tajam pada Maret 2026 di level US$ 102,26 per barel. Puncak kenaikannya terjadi per April 2026 di level US$ 117,31 per barel dan kembali menurun per Mei 2026 di level US$ 106,56 per barel.

Jika dihitung secara rata-rata selama 5 bulan sejak awal tahun 2026, harga rata-rata ICP sudah menyentuh nomor US$ 91,86 per barel.

Angka itu jelas sudah melampaui dugaan nan ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar US$ 70 per barel. Artinya, nilai rata-rata ICP saat ini, terhitung sudah melampaui hingga 31,2% dari dugaan APBN 2026.

Sebagaimana diketahui, meningkatnya nilai minyak mentah Indonesia itu salah satunya didasarkan atas tetap memanasnya perang di Timur Tengah.

Dolar AS Menguat

Disamping nilai ICP nan meningkat, Indonesia saat ini juga ditekan dengan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Melansir info Refinitiv, rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Rupiah pada pukul 09.07 WIB berada di level Rp18.160/US$. Sepanjang awal perdagangan, rupiah sempat bergerak pada rentang Rp18.150-18.160/US$.

Bahkan, Rupiah sempat mencetak rekor terendahnya pada Senin (8/6/2026) di level Rp 18.208 per US$.

Tren peningkatan ICP dan terus melemahnya nilai tukar rupiah tentu berakibat ke beragam aspek ekonomi termasuk meningkatnya besaran subsidi dan kompensasi nan kudu dikocek APBN 2026.

Subsidi dan kompensasi per 30 April 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan shopping subsidi dan kompensasi tersalurkan sebesar Rp153,1 triliun per 30 April 2026, setara 34,4% terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Adapun, dari info Kemenkeu, nilai realisasi itu terdiri atas shopping subsidi sebesar Rp74,9 triliun dan shopping kompensasi Rp78,2 triliun.

Besaran realisasi subsidi dan kompensasi ini dipengaruhi oleh perubahan ICP, depresiasi nilai tukar rupiah, serta pembayaran duit muka subsidi pupuk, peningkatan volume bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik.

Jika dirinci lebih lanjut, realisasi shopping subsidi dan kompensasi BBM mencapai 4.704 kilo liter alias tumbuh 8,2% dan LPG 3 Kg 2.152 juta Kg alias naik 3,7% pada akhir 2026.

Sementara itu, subsidi listrik mencapai 42,9 juta pengguna alias tumbuh 2,2%. Kemudian, subsidi pupuk telah mencapai 2,9 juta ton alias naik 25,2% dan subsidi debitur KUR mencapai 1,54 juta penerima.

Purbaya pun menuturkan skema pembayaran subsidi dan kompensasi nan dibayarkan tiap bulan terhadap Pertamina dan PLN berakibat baik pada finansial keduanya.

"Belanja subsidi dan kompensasi untuk menjaga daya beli masyarakat, ya kami bayar sesuai dengan nan diminta oleh PLN dan Pertamina. Kan sekarang sudah betul Januari-Maret, subsidinya selalu kita bayar penuh dan untuk kompensasinya kita bayar 70%-70% dan itu nan membikin keadaan finansial Pertamina lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," papar Purbaya.

Dengan perbaikan finansial BUMN daya ini, maka Pertamina dapat dengan mudah mengamankan pembelian minyak tambahan, sekalipun dengan nilai tinggi.

Target Prabowo dalam Cetak Biru RAPBN 2027

Presiden Prabowo Subianto membacakan poin-poin dugaan makro dalam pidato penyampaian arsip Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 nan disampaikan Prabowo di Sidang Paripurna, Rabu (20/5/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo mencanangkan nilai tukar rupiah pada level Rp 16.800 - Rp 17.500 per dolar AS pada 2027. Asumsi dalam KEM-PPKF ini bakal menjadi cetak biru RAPBN 2027.

"Nilai tukar kita jaga di Rp 16.800 - Rp 17.500 per dolar AS. Strategi fiskal dan moneter kudu strategi nan bisa untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata duit dunia," tegasnya.

Adapun, dalam cetak biru ini, Prabowo mencanangkan dugaan makro a.l. inflasi 1,5%-3,5%, pertumbuhan ekonomi alias PDB RI 5,8%-6,5%, suku kembang SBN 10 tahun 6,5%-7,3%, lifting minyak 602 ribu-615 ribu barel per hari, gas 934 ribu - 977 ribu barel setara gas per hari dan nilai minyak (ICP) US$ 70-95 per barel.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News