Harga minyak mentah menurun pada perdagangan Rabu (26/8), lantaran para pedagang memandang kemajuan upaya diplomatik untuk melanjutkan pengiriman melalui Selat Hormuz melawan akibat baru dari tekanan pasokan global.
Dikutip dari Bloomberg, nilai Brent untuk Oktober turun 0,8 persen menjadi USD 87,84 per barel setelah berfluktuasi antara kerugian dan keuntungan. West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober turun 0,1 persen menjadi USD 82,23 per barel, lantaran Oman dan Iran mendorong kesepakatan nan lebih luas tentang pengelolaan Selat Hormuz.
Iran mengatakan kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan pembagian pendapatan pada Selat Hormuz, meskipun Teheran telah berulang kali mengatakan kesepakatan tentang navigasi tidak bakal sama dengan pembukaan kembali segera.
Harga terdorong lebih tinggi selama sesi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin disebut merencanakan eskalasi di Ukraina, setelah menyimpulkan bahwa negosiasi untuk kesepakatan tenteram telah mencapai jalan buntu. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran tentang ancaman baru terhadap pasokan daya global.
Serangan Ukraina baru-baru ini di kilang dan pelabuhan telah menekan pasar bahan bakar dan mencegah Moskow mengalihkan minyak mentah menjadi ekspor, semakin memperketat pasar nan sudah terganggu oleh akibat dari perang Iran.
Sementara itu, info AS menunjukkan pasokan domestik solar telah jatuh ke tingkat musiman terendah nan pernah ada, berkesempatan lebih tinggi lagi tepat ketika musim pertanian dimulai. Eropa sangat terpengaruh oleh krisis, lantaran pembeli menarik impor dari Meksiko untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Namun, pasokan minyak mentah tampaknya mengalir dari Teluk Persia apalagi ketika relatif sedikit produk bahan bakar olahan nan keluar. Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa 10 juta barel minyak telah keluar dari Hormuz pada Selasa, meningkatkan angan bahwa pengiriman melalui jalur air kritis dapat meningkat setelah berbulan-bulan gangguan.
Citra satelit juga menunjukkan pemuatan minyak Arab Saudi di dalam Teluk Persia meningkat, tanda terbaru bahwa kerajaan tersebut menemukan solusi untuk memindahkan barel lantaran militan Houthi Yaman menakut-nakuti ekspor Laut Merahnya.
"Pasar minyak terus condong ke arah lebih banyak pasokan nan bergerak melalui Selat Hormuz. Namun dengan tidak ada agunan garis waktu di tempat untuk pembukaan lebih lanjut banyak pedagang telah pindah ke sela-sela,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior untuk perdagangan di BOK Financial Securities Inc.
Namun apalagi ketika jutaan barel minyak mentah per hari melarikan diri melalui Hormuz, serangan terhadap pengiriman terus bersambung dan akibat tetap ada.
Sekutu AS secara pribadi memperingatkan bahwa selat itu kemungkinan tetap ditambang, menimbulkan keraguan atas klaim Trump bahwa Angkatan Laut AS telah sepenuhnya menghapus dan meledakkan bahan peledak nan diletakkan oleh Iran.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·