Harga Minyak Dunia Turun 5% Seiring Munculnya Harapan Damai Iran-AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kilang minyak. Foto: GreenOak/Shutterstock

Harga minyak bumi turun lebih dari 5 persen dan ditutup di level terendah dalam tiga pekan pada Selasa (5/8). Pendorongnya adalah pernyataan pejabat Qatar dan Amerika Serikat (AS) nan memunculkan angan tercapainya solusi diplomatik atas perang Iran-AS, sehingga arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali lancar.

Dikutip dari Reuters, perjanjian berjangka minyak Brent turun USD 4,41 alias 5,3 persen menjadi USD 79,36 per barel, level terendah sejak 13 Juli. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun USD 4,57 alias 5,7 persen menjadi USD 75,77 per barel, juga menjadi posisi terendah dalam tiga pekan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan ada kemajuan dalam pembicaraan antara AS, Iran, dan Oman mengenai upaya membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Meskipun sejah ini kesepakatan final tetap belum tercapai.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya juga menyebut kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali selat tersebut berkesempatan tercapai pada Selasa alias Rabu waktu setempat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan upaya mencari penyelesaian diplomatik tetap terus berlangsung. Kantor Emir Qatar juga menyampaikan, Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump telah membahas langkah-langkah untuk meredakan eskalasi perang dan menyamakan pandangan antara AS dan Iran.

Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Di sisi lain, putaran terbaru perundingan nan dimediasi AS antara Israel dan Lebanon dimulai pada Selasa (4/8) dan dijadwalkan berjalan hingga Kamis (6/8).

Head of Business Development XS.com, Simon-Peter Massabni, mengatakan prospek penyelesaian diplomatik telah mengurangi premi akibat geopolitik nan sebelumnya mendorong nilai minyak naik setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran bulan lalu.

Menurut dia, andaikan negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan kemajuan nan berarti, pasar bakal semakin memperhitungkan kecilnya akibat gangguan pasokan minyak sehingga premi akibat geopolitik pada nilai minyak mentah berpotensi terus menyusut.

Bayang-bayang Gangguan Pasokan

Meski demikian, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz tetap memaksa negara-negara di Timur Tengah memangkas produksi minyak secara signifikan. Dunia diproyeksi kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak sejak bentrok Iran pecah pada Februari lalu.

Analis ANZ menilai ekspor minyak dari area Teluk tetap berada di bawah tekanan lantaran lampau lintas kapal di Selat Hormuz baru menunjukkan sedikit perbaikan dari level nan sangat rendah. Gangguan ekspor tetap bersambung akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal nan melintas.

Perahu-perahu di Selat Hormuz di Selat Hormuz di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERS

Lalu lintas pelayaran di dua jalur utama area Teluk, ialah Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz, juga dilaporkan belum mengalami perubahan berfaedah pada awal pekan ini.

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan nilai minyak Brent bakal bergerak di kisaran USD 80-90 per barel hingga terdapat kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran alias terjadi eskalasi signifikan dalam perang di area tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan