Ilustrasi.(Magnific)
HARGA minyak bumi melonjak tajam pada perdagangan di Asia, Selasa (28/7/2026), menyusul eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan ini dipicu oleh serangan jawaban Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap situs-situs nan didukung Iran di Irak, setelah Teheran meluncurkan serangan terhadap pasukan Amerika.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik 3,48% menjadi US$87,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat 3,34% ke level US$81,91 per barel.
Konfrontasi Militer Langsung
Komando Pusat AS (Centcom) melalui unggahan di platform X mengonfirmasi bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan beberapa rudal balistik dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Sebagai respons, pasukan AS dan Arab Saudi menyerang beberapa letak logistik dan senjata di Irak timur. Operasi campuran ini merupakan tindakan jawaban atas lebih dari 30 serangan drone dalam tiga hari terakhir nan dilakukan oleh golongan nan berafiliasi dengan Iran.
Ancaman Jalur Pasokan Global
Ketegangan tidak hanya terbatas di daratan. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan ada aktivitas mencurigakan di Laut Merah. Seorang nakhoda kapal tanker melaporkan mendengar ledakan saat melintasi wilayah selatan Laut Merah pada Senin waktu setempat.
Para mahir memperingatkan bahwa Selat Bab El Mandeb sekarang menjadi titik rawan baru nan menyerupai Selat Hormuz. Bjorn Vang Jensen, Penasihat Industri Eksekutif di Xeneta, menyatakan bahwa serangan Houthi terhadap akomodasi minyak Saudi--termasuk prasarana produksi, penyimpanan, dan pelabuhan--dapat mengganggu pasokan di seluruh kawasan.
Analisis Pasar: Arab Saudi dinilai tidak bakal menoleransi gangguan pada jalur pelayaran Bab El Mandeb nan merupakan garis hidup ekonomi mereka.
Sentimen Hawkish The Fed
Selain aspek geopolitik, lonjakan nilai minyak juga diperparah oleh sentimen dari pasar finansial AS. Laporan Kitco menyebut bahwa nada hawkish dari Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam pertemuan perdana FOMC-nya turut memengaruhi pasar.
Para pelaku pasar saat ini terbelah mengenai keputusan suku kembang bank sentral AS nan dijadwalkan keluar pada Rabu (29/7) waktu setempat. Kombinasi antara akibat gangguan pasokan daya di Timur Tengah dan kebijakan moneter AS nan ketat menciptakan tekanan ke atas pada nilai komoditas global. (CNBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·