Harga Minyak Brent Sempat Melonjak 3 Persen Usai Konflik AS-Iran Memanas

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Ilustrasi kilang minyak di AS. Foto: Alizada Studios/Shutterstock

Harga minyak mentah bumi jenis Brent sempat melonjak hingga 3 persen pada perdagangan Jumat (9/5), sehari setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan udara. Namun, kenaikan itu akhirnya terpangkas lantaran pelaku pasar berambisi ada jarak bentrok nan lebih panjang setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, perjanjian berjangka minyak Brent ditutup di level USD 101,29 per barel, naik USD 1,23 alias 1,23 persen, setelah sempat melesat hingga 3 persen sepanjang sesi perdagangan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berhujung di posisi USD 95,42 per barel, naik 61 sen alias 0,64 persen.

Meski menguat pada perdagangan harian, kedua perjanjian minyak tersebut tetap mencatat pelemahan mingguan lebih dari 6 persen.

“Kami tetap bergerak di tempat, dan itu memang wajar,” kata Partner Again Capital, John Kilduff.

“Kami berada di periode terobosan negosiasi alias justru di periode pecahnya kembali konflik. Situasi seperti ini sudah sering terjadi,” lanjutnya.

Kilduff menilai pasar tetap menunggu arah pasti, apakah negosiasi tenteram bakal tercapai alias justru bentrok kembali memanas. Menurut dia, ada kepercayaan di pasar bahwa Iran dan AS bakal mencapai kesepakatan awal sebelum melanjutkan pembicaraan tahap berikutnya.

video story embed

“Ada kepercayaan di pasar bahwa bakal tercapai kesepakatan dan kita bakal masuk ke tahap berikutnya, ialah 30 hari untuk merampungkan kesepakatan antara Iran dan AS,” ujar Kilduff.

Sepanjang perdagangan, nilai minyak bergerak naik turun mengikuti perkembangan terbaru bentrok di Timur Tengah. Pelaku pasar disebut terus merespons beragam pernyataan dan perkembangan geopolitik nan berubah cepat.

“Kami tetap memainkan permainan nan digerakkan oleh buletin utama,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

“Pergerakan kapal di Teluk Persia tetap berjalan sebaik mungkin dalam kondisi saat ini. Kami hanya mencoba memperkuat di tengah situasi,” tambahnya.

Bentrok antara pasukan AS dan Iran dilaporkan kembali terjadi di area Teluk. Uni Emirat Arab juga kembali mendapat serangan ketika Washington menunggu respons Teheran atas proposal penghentian bentrok nan dimulai sejak serangan udara campuran AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis waktu setempat mengatakan gencatan senjata tetap bertindak dan berupaya meredam ketegangan. Namun sehari setelahnya, Trump kembali mengultimatum Iran agar menghentikan ambisi nuklirnya.

Analis PVM Oil Associates, John Evans, mengatakan pasar tetap susah memperkirakan arah pasokan minyak sebelum ada solusi jangka panjang atas bentrok tersebut.

“Seberapa sigap pasokan dari negara-negara Teluk bisa kembali normal, gimana kondisi persediaan saat memasuki puncak musim konsumsi bensin, dan seperti apa hukuman setelah kesepakatan tercapai, semuanya memang layak dipikirkan. Namun semua itu belum bisa dijawab sampai ada solusi jangka panjang atas bentrok ini,” ujarnya.

Sementara itu, pendiri firma kajian pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pemerintah AS terlalu optimistis terhadap kesempatan meredanya konflik.

“Pemerintah AS terus menjual optimisme berlebihan soal kesempatan meredanya konflik, dan pasar nan memang condong optimistis ikut mempercayainya,” kata Hari.

“Menariknya, setiap kali pasar pulih, pemulihannya selalu berjenjang dan tidak sepenuhnya kembali normal, sehingga manuver-manuver semu itu setidaknya cukup berhasil,” lanjut dia.

Di sisi lain, Reuters melaporkan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS tengah menyelidiki transaksi perdagangan minyak senilai USD 7 miliar nan dilakukan menjelang pengumuman krusial mengenai perang Iran oleh Trump.

Mayoritas transaksi tersebut berupa posisi short alias taruhan nilai minyak bakal turun. Transaksi dilakukan di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) sesaat sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, gencatan senjata, alias perubahan kebijakan lain terhadap Iran nan memicu pelemahan pasar minyak.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan