Harga komoditas terpantau kembali melemah pada penutupan perdagangan Rabu (29/7). Pelemahan terjadi pada batu bara, nikel, dan timah.
Batu Bara
Berdasarkan situs tradingeconomics, nilai batu bara kembali menunjukkan tren melemah, turun 0,04 persen ke level USD 130,20 per ton.
Harga batu bara termal memperkuat di kisaran USD 130 per ton pada akhir Juli, mendekati level tertinggi dalam sebulan. Penguatan nilai didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari Indonesia akibat cuaca kering nan menghalang pengangkutan batu bara di Sungai Barito, Kalimantan.
Selain itu, kenaikan nilai minyak di tengah ketegangan di Timur Tengah turut menopang pasar energi. Meski demikian, kenaikan nilai batu bara tetap tertahan oleh lemahnya permintaan dari China nan tetap mempunyai persediaan melimpah dan membatasi impor.
Nikel
Adapun nilai nikel juga terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan London Metal Exchange (LME), nilai nikel meningkat 0,98 persen menjadi USD 17.137 per ton.
Timah
Harga timah pada periode perdagangan nan sama, berasas info dari London Metal Exchange (LME), menunjukkan adanya peningkatan 0,56 persen. Dengan begitu, sekarang nilai timah ada pada level USD 53.882 per ton.
CPO
Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meningkat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (29/7). Berdasarkan situs tradingeconomics, nilai CPO naik 0,47 persen menjadi MYR 4.664 per ton.
Harga minyak sawit berjangka di Malaysia kembali menguat dan diperdagangkan di atas MYR 4.650 per ton setelah pulih dari pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini didorong oleh kenaikan nilai minyak sawit di Bursa Dalian dan minyak kedelai di Chicago nan turut memperbaiki sentimen pasar. Selain itu, kenaikan nilai minyak mentah akibat turunnya persediaan minyak di Amerika Serikat juga meningkatkan permintaan biodiesel.
Sementara itu, impor minyak sawit India diperkirakan bakal meningkat pada periode Juli hingga Oktober lantaran pasokan minyak nabati nan terbatas menjelang musim liburan, sehingga mendorong permintaan.
Di Indonesia nan merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia, pemerintah tengah berupaya menjaga daya saing ekspor dengan bermusyawarah kepada Amerika Serikat agar produk minyak sawit dibebaskan dari tarif baru sebesar 10 persen.
Meski demikian, penguatan nilai minyak sawit tetap terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh nilai tukar ringgit Malaysia nan menguat, sehingga membikin nilai menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Selain itu, impor minyak sawit Uni Eropa pada tahun pemasaran 2026/2027 nan dimulai sejak Juli tercatat turun 39 persen secara tahunan menjadi hanya 0,13 juta ton juga turut menekan potensi kenaikan harga.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·