Harga emas global kembali melemah pada perdagangan Senin (18/5) di tengah belum adanya kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dunia dan mengguncang pasar obligasi.
Dikutip dari Bloomberg, pukul 09:15 waktu Singapura, nilai emas spot tercatat turun 1 persen menjadi USD 4.495,06 per troy ounce. Sementara itu, nilai perak turun 2,5 persen menjadi USD 74,06 per ounce setelah pekan lampau ambruk lebih dari 5 persen.
Harga emas spot sempat turun hingga 1,3 persen ke kisaran USD 4.480 per troy ounce setelah pekan lampau merosot nyaris 4 persen. Secara keseluruhan, nilai logam mulia itu telah terkoreksi sekitar 15 persen sejak bentrok Iran pecah beberapa pekan lalu.
Tekanan terhadap emas muncul seiring berlanjutnya bentrok antara Amerika Serikat dan Iran nan membuat Selat Hormuz, jalur vital pengedaran daya dunia, tetap efektif tertutup. Harga minyak kembali naik setelah Presiden AS Donald Trump memperbarui ancaman terhadap Iran, sehingga memicu spekulasi kenaikan suku kembang nan biasanya membebani aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Pasar obligasi dunia juga mengalami tekanan dahsyat akibat kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat perang bakal memaksa bank sentral meningkatkan suku kembang lebih tinggi.
Analis Senior Komoditas ANZ Group Holdings, Daniel Hynes, mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi membikin daya tarik emas bagi penanammodal mulai berkurang.
“Profil risk-reward emas memburuk sehingga penanammodal mulai melepas posisi mereka,” ujar Hynes dalam catatannya.
Meski begitu, ANZ menilai bank sentral pada akhirnya bakal kembali melonggarkan kebijakan moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi dunia nan tertekan bentrok berkepanjangan. ANZ pun memproyeksikan nilai emas tetap berpotensi naik hingga USD 6.000 per troy ounce pada pertengahan 2027.
Pasar juga menyoroti serangan drone misterius pada Minggu (17/5) nan memicu kebakaran di akomodasi nuklir Uni Emirat Arab. Insiden tersebut kembali memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Di sisi lain, permintaan emas India diperkirakan melemah akibat kebijakan impor nan semakin ketat. Pemerintah India juga memperketat patokan impor perak demi menjaga nilai tukar rupee nan sekarang berada di titik terendah sepanjang sejarah. Namun pelemahan permintaan dari India diperkirakan dapat diimbangi oleh meningkatnya permintaan dari China.
Pelaku pasar sekarang menantikan risalah rapat Federal Reserve AS bulan April nan bakal dirilis pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku kembang ke depan. Indeks Bloomberg Dollar Spot nan mengukur kekuatan dolar AS juga naik 0,1 persen setelah menguat 1,2 persen sepanjang pekan lalu.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·