Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras kembali naik di sejumlah pedagang Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Setelah sempat turun sekitar Rp200 per kilogram (kg) dalam dua pekan lalu, nilai beras sekarang kembali merangkak naik dengan besaran nan sama.
Berdasarkan pantauan langsung CNBC Indonesia di Pasar Rumput, Jumat (16/10/2026), pedagang mengungkapkan nilai beras tetap memperkuat di level tinggi. Kenaikan nilai ini terjadi baik pada beras medium maupun premium.
Salah satu pedagang beras, Bayu, mengatakan nilai beras sempat mengalami penurunan sebelum kembali naik dalam beberapa waktu terakhir.
"Gini, jika beras itu dua minggu kemarin sempat turun Rp200. Nah, sekarang naik lagi Rp200," kata Bayu kepada CNBC Indonesia saat ditemui di lokasi.
Bayu menyebut nilai beras medium nan dijualnya saat ini paling murah mencapai Rp15.500 per kg. Sementara itu, beras premium dijual Rp16.500 per liter alias sekitar Rp18.000-Rp19.000 per kg.
Pantauan nilai beras di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky) Foto: (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky)
Pedagang lainnya, Dedi, juga mengungkapkan kondisi serupa. Menurutnya, nilai beras kembali naik setelah sempat mengalami penurunan tipis.
"Sekarang naik lagi. Kemarin sempat turun sedikit Rp100, tapi belakangan naik lagi Rp200 per kg. Jadi ya naik-turun, hanya jika dilihat harganya tetap tinggi," ujar Dedi.
Dedi mengatakan beras medium paling murah nan dijualnya Rp15.500 per kg. Adapun beras premium dijual sekitar Rp17.500-Rp18.500 per kg.
Menurut Dedi, tingginya nilai beras nan dijual pedagang tidak terlepas dari nilai pengadaan peralatan nan sudah mahal, ditambah ongkos pengedaran dan jasa.
"Iya, lantaran kita juga ambil peralatan dari induk (Pasar Induk Beras Cipinang/PIBC) sudah tinggi. Belum lagi ongkos sama jasa panggulnya. Kalau kudu jual sesuai HET (harga satuan tertinggi), kita juga susah, modalnya saja sudah besar," katanya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang beras lainnya, Rena. Ia menyebut nilai beras saat ini condong memperkuat di level tinggi selama beberapa bulan terakhir, meskipun terdapat sedikit kenaikan dan penurunan.
"Ada naik, sedikit saja. Tapi stabil segini-segini saja sih harganya udah berapa bulan, hanya memang stabilnya lumayan tinggi ya," kata Rena.
Rena menjelaskan, beras medium dijual sekitar Rp13.000 per liter alias setara Rp15.000-Rp15.500 per kg. Sementara itu, nilai beras premium berkisar Rp13.000-Rp15.000 per liter alias sekitar Rp16.000-Rp18.500 per kg, berjuntai pada jenis dan kualitas beras.
Kondisi tersebut membikin pedagang kesulitan menjual beras mengikuti nilai satuan tertinggi (HET) nan ditetapkan pemerintah. Pasalnya, nilai pembelian dari pemasok dan biaya operasional turut memengaruhi nilai jual di tingkat pengecer.
Bayu menilai pemerintah perlu memperhatikan pembentukan nilai sejak tingkat penggilingan, bukan hanya menekan nilai di tingkat pedagang.
"Kalau pemerintah mengharuskan jual sesuai HET nan paling tinggi, nan mau nombokin siapa? Pemerintah mana tahu hitungan jumlah operasionalnya dari wilayah sampai ke sini," ujar Bayu.
Ia mencontohkan, nilai gabah nan tinggi turut memengaruhi nilai beras setelah melalui proses penggilingan dan distribusi. Menurut Bayu, penetapan HET juga perlu mempertimbangkan kondisi nilai nan betul-betul terjadi di lapangan.
"Pokoknya dibenahi saja hulunya, di tingkat penggilingannya. Kalau kita di hilir ini kan hanya mengikuti nilai dari hulu saja," katanya.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]
21 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·