Harga Bensin AS Cetak Rekor Jadi USD 4,23 per Galon Akibat Blokade Selat Hormuz

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi SPBU di Amerika. Foto: refrina/shutterstock

Harga bensin di Amerika Serikat telah mencetak rekor baru sejak dimulainya perang dengan Iran. Berdasarkan info dari Asosiasi Otomotif Amerika alias (AAA) pada Rabu (29/4), nilai rata rata nasional melonjak hingga menyentuh nomor USD 4,23 per galon.

Mengutip nbcnews.com, rekor ini terjadi seiring dengan kenaikan nilai minyak bumi selama sepekan terakhir.

Situasi tersebut dipicu oleh blokade dobel nan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, nan merupakan jalur pengedaran daya paling krusial untuk mengangkut minyak mentah dari area Teluk Persia.

Harga minyak mentah jenis Brent nan menjadi tolok ukur internasional saat ini berada pada level USD 114,60.

Angka ini melonjak nyaris 25 persen dari posisi terendah pada 17 April lampau dan hanya terpaut beberapa dolar dari rekor tertinggi sebelumnya di nomor USD 118 dolar.

AAA mencatat kenaikan harian terbesar dalam sebulan terakhir terjadi pada Selasa lampau dengan peningkatan sebesar USD 0,07 dalam satu hari.

Jika dihitung sejak sebelum perang pecah pada akhir Februari 2026, nilai bensin telah melesat sebesar USD 1,25 per galon alias meningkat lebih dari 40 persen.

Ilustrasi SPBU di Amerika. Foto: 010110010101101/Shutterstock

Lonjakan nilai minyak ini memperparah tren kenaikan musiman nan biasanya terjadi saat kilang melakukan perawatan berkala serta dimulainya musim perjalanan musim semi dan panas.

Penasihat daya utama dari Gulf Oil, Tom Kloza, menyebut bahwa banyak stasiun pengisian bahan bakar telah berupaya menekan margin untung mereka agar nilai tetap berada di bawah level psikologis USD 4. Namun, langkah ini dinilai tidak bakal memperkuat lama.

"Ini adalah tekanan margin paling serius nan pernah kita lihat bagi pengecer sejak tahun 2020," ungkap Tom Kloza mengutip nbcnews.com.

Konsumsi Rumah Tangga Tertekan

Ilustrasi SPBU di Amerika. Foto: Hrach Hovhannisyan/Shutterstock

Dalam laporan terbarunya, para analis dari Bank of America menemukan bahwa akibat kenaikan nilai bensin ini mulai memberikan tekanan signifikan pada anggaran rumah tangga berpenghasilan rendah.

Meskipun secara keseluruhan porsi shopping bensin terhadap anggaran rumah tangga tetap di bawah puncak krisis tahun 2008, 2011, dan 2012, akibat besar tetap mengintai jika biaya bahan bakar ini mulai merembet ke nilai kebutuhan pokok seperti bahan makanan dan tarif listrik.

Sementara itu, kepercayaan konsumen Amerika Serikat terpantau tetap berada di level nan rendah. Meskipun ada sedikit kenaikan pada indeks utama nan kemungkinan mengenai dengan pengumuman gencatan senjata awal bulan ini, nomor tersebut tetap jauh di bawah level sebelum pandemi maupun periode awal kemenangan kedua Presiden Donald Trump pada November 2024.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan