Harga BBM-Tiket Pesawat Naik Picu Fenomena di RI, Begini Data-Faktanya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penyebab utama inflasi pada Mei 2026. Berbeda dengan periode hari besar keagamaan nan biasanya didorong oleh lonjakan nilai pangan, inflasi kali ini justru lebih banyak disumbang oleh kenaikan nilai pada golongan inti dan nilai nan diatur pemerintah, termasuk bensin non-subsidi serta tarif pikulan udara.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut inflasi pada Mei 2026 tetap tergolong terkendali, meski bertepatan dengan momentum Iduladha.

"Untuk bulan Mei 2026, secara year on year (yoy) kita mengalami inflasi 3,08% dan secara month to month (mtm) inflasinya adalah sebesar 0,28%. Ini tentunya tadi jika dibandingkan dengan Idulfitri, inflasi di bulan Mei 2026 ini sudah relatif rendah," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (15/6/2026).

Menurutnya, secara historis inflasi saat momentum Iduladha memang condong lebih rendah dibandingkan periode Idulfitri. Pola tersebut kembali terjadi pada tahun ini.

"Karena jika kita memandang historis, bahwa inflasi di momen Iduladha biasanya memang selalu lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada momen hari raya Idulfitri. Jadi begitu juga nan terjadi di tahun ini, bahwa inflasi di bulan Mei ialah di mana jatuhnya momen Iduladha, kita lihat inflasi itu relatif lebih rendah dibandingkan dengan momen Idulfitri," jelasnya.

Meski demikian, BPS mencatat sejumlah komponen tetap memberikan tekanan terhadap inflasi bulanan. Amalia mengatakan, golongan makanan dan minuman tetap menyumbang inflasi lantaran meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Iduladha.

"Beberapa perihal nan menjadi catatan kita adalah, penyebab dari inflasi month to month di bulan Mei 2026 ini, terutama untuk golongan makanan minuman, lantaran memang beberapa makanan nan memberikan andil kepada seremoni hari raya Iduladha selama 2026," terang dia.

Namun jika ditelaah berasas komponen pembentuk inflasi, kontribusi terbesar justru datang dari inflasi inti dan golongan nilai nan diatur pemerintah.

"Untuk nan bulan Mei 2026, jika kita lihat inflasi berasas komponen, itu ada komponen inti, komponen nilai diatur pemerintah, dan komponen nilai bergejolak. Dan jika kita perhatikan dari diagram ini, nan banyak memberikan andil inflasi di bulan Mei 2026 adalah dari inflasi golongan inti dan nilai diatur pemerintah," kata Amalia.

"Jadi artinya untuk andil inflasi dari komponen pangan bergejolak, ini tidak setinggi dari komponen inti dan komponen nan diatur pemerintah," lanjutnya.

Berdasarkan paparanya, komponen inti pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22% dengan andil 0,14% terhadap inflasi bulanan. Sementara komponen nilai nan diatur pemerintah mencatat inflasi 0,52% dengan andil 0,10%. Adapun komponen nilai bergolak alias volatile food juga mengalami inflasi 0,22%, namun andilnya hanya sebesar 0,04%.

Amalia menjelaskan, inflasi inti terutama dipicu oleh kenaikan nilai sejumlah peralatan dan jasa non-pangan, termasuk minyak goreng, telepon seluler, laptop, hingga pelumas kendaraan.

"Antara lain untuk komponen inti dan komponen nilai nan diatur pemerintah penyumbangnya adalah untuk nan komponen inflasi inti. Penyebabnya antara lain, adalah lantaran nilai minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas, lantaran nilai BBM naik, sehingga nilai pelumas oli mesin juga mengalami kenaikan," jelas Amalia.

Sementara itu, golongan nilai nan diatur pemerintah mendapat tekanan dari kenaikan nilai daya dan transportasi.

"Selain itu untuk komponen nilai nan diatur pemerintah, itu inflasi disumbang oleh lantaran naiknya bahan bakar rumah tangga, bensin, terutama nan non subsidi, serta tarif pikulan udara," katanya.

Amalia memaparkan, komponen nilai nan diatur pemerintah menunjukkan tren inflasi nan menguat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya nilai bahan bakar rumah tangga, bensin non-subsidi, serta tarif penerbangan nan menjadi salah satu penggerak inflasi pada Mei 2026.

Di sisi lain, kontribusi golongan pangan bergolak tercatat tidak sebesar dua komponen lainnya. Meski sejumlah komoditas pangan seperti cabe merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau tetap memberikan andil inflasi, dampaknya relatif lebih terbatas.

"Untuk komoditas pangan selama bulan Mei 2026, nan kita tahu bahwa andilnya terhadap inflasi bulan Mei tidak setinggi komponen inti dan komponen nan nilai diatur pemerintah," pungkas Amalia.

Materi paparan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (15/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri)Materi paparan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (15/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri) Foto: Materi paparan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (15/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News