Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris nan juga pemerhati pendidikan mendorong penguatan guru, percepatan digitalisasi, serta pemerataan jasa pendidikan sebagai kunci utama menjawab beragam tantangan pendidikan nasional. Hal ini disampaikan dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Menurut Fahira Idris, peringatan Hardiknas menjadi refleksi kolektif bahwa pendidikan tidak hanya soal akses, tetapi juga kualitas dan keadilan. Di tengah beragam capaian pembangunan pendidikan, Indonesia tetap menghadapi tantangan mendasar, mulai dari ketimpangan antarwilayah, kualitas hasil belajar nan belum optimal, hingga belum meratanya pengedaran dan kompetensi guru.
“Hardiknas jadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Namun, fondasi ini tetap menghadapi tantangan besar, terutama dalam perihal pemerataan kualitas dan akses pendidikan,” ujar Fahira Idris, Sabtu (2/5).
Senator Jakarta ini mengungkapkan, ketimpangan pendidikan tetap terlihat jelas, terutama antara wilayah perkotaan dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Keterbatasan infrastruktur, akses teknologi, hingga kekurangan tenaga pendidik menjadi halangan utama nan kudu segera diatasi agar tidak memperlebar kesenjangan kualitas sumber daya manusia.
Selain itu, capaian pembelajaran siswa Indonesia nan tetap relatif belum memuaskan, termasuk dalam parameter internasional seperti literasi, numerasi, dan sains, menjadi sinyal kuat bahwa transformasi pendidikan kudu dilakukan secara lebih sistemik dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, Fahira Idris menegaskan bahwa penguatan peran pembimbing menjadi prioritas utama. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penyedia pembelajaran, pembentuk karakter, dan pemasok perubahan dalam sistem pendidikan.
“Transformasi pendidikan kudu dimulai dari guru. Peningkatan kompetensi, kesejahteraan, serta pemerataan pengedaran pembimbing kudu menjadi agenda utama. Tanpa pembimbing nan kuat, semua kebijakan pendidikan bakal susah mencapai akibat nan optimal,” tegas Fahira Idris.
Selain penguatan guru, Fahira Idris juga menekankan pentingnya percepatan digitalisasi pendidikan nan inklusif dan merata. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi kudu memastikan seluruh peserta didik, termasuk di wilayah 3T, mempunyai akses nan sama terhadap sumber belajar berkualitas.
“Digitalisasi pendidikan kudu bisa menutup kesenjangan, bukan justru menciptakan kesenjangan baru. Oleh lantaran itu, pembangunan prasarana digital, penyediaan perangkat, serta peningkatan literasi digital pembimbing dan siswa kudu melangkah beriringan,” ucapnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·