Halimun Salak, Rumah Macan Tutul dan Penyangga Energi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Gunung Halimun Salak mempunyai peran krusial bagi keberlangsungan makhluk hidup. Bentang alam tersebut menjadi kediaman beragam satwa langka sekaligus menopang aktivitas manusia.

Salah satu satwa nan menjadikan area tersebut sebagai kediaman adalah macan tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sebanyak 51 perseorangan sukses diidentifikasi melalui pemasangan kamera pengintai di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi populasi predator puncak ekosistem rimba di Pulau Jawa sekaligus menunjukkan tantangan nan tetap dihadapi dalam upaya konservasinya.

Sebanyak 240 kamera pengintai dipasang pada 120 petak survei. Dari 119 stasiun kamera nan dapat dianalisis, 113 di antaranya merekam keberadaan macan tutul Jawa.

Peneliti mengidentifikasi 23 perseorangan jantan, 24 betina, serta empat perseorangan nan jenis kelaminnya belum dapat ditentukan.

Selain macan tutul Jawa, kamera pengintai juga merekam beragam satwa lain, seperti trenggiling, lutung Jawa, surili Jawa, elang Jawa, kucing kuwuk, dan landak Jawa.

Hasil survei menunjukkan macan tutul Jawa lebih banyak terdeteksi di area dengan kondisi rimba nan relatif terjaga.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, mengatakan nilai krusial temuan tersebut bukan hanya terletak pada jumlah perseorangan nan sukses diidentifikasi, tetapi juga pada pengetahuan nan dapat digunakan untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.

“Angka 51 memberi kita info nan sangat berharga, tetapi konservasi tidak berakhir pada berapa perseorangan nan sukses terekam,” kata Hariyo, Senin (31/8/2026).

Menurut Hariyo, temuan 51 perseorangan macan tutul Jawa tersebut menjadi pemicu untuk terus menjaga kediaman dan keberlangsungan hidup satwa tersebut agar tidak punah.

Pasalnya, survei juga merekam adanya tekanan terhadap kediaman di sejumlah bagian kawasan, termasuk perburuan, pembalakan, perambahan, dan aktivitas kendaraan.

“Justru, temuan itu membuka pertanyaan mengenai gimana menjaga habitat, sumber pakan, dan konektivitas area ketika satwa liar, masyarakat, serta beragam aktivitas manusia berbagi bentang alam nan sama. nan lebih krusial adalah apakah populasi ini dapat memperkuat dalam jangka panjang. Itu berjuntai pada kualitas habitat, kesiapan mangsa, konektivitas antarhabitat, dan gimana beragam tekanan terhadap area dikelola,” ujar Hariyo.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita