Jakarta -
Anggota DPR Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) menghadiri 10th Anniversary and International Business Gala Dinner Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia di Jakarta. Bamsoet mendorong peningkatan kerja sama hubungan ekonomi Indonesia dengan Provinsi Jiangxi, China.
Menurut Bamoset pada usia ke-10 tahun hubungan kedua pihak, kerja sama kedua pihak perlu bergerak dari sekadar jejaring upaya dan transaksi perdagangan menuju business matching, investasi, industrial cooperation, penguatan rantai pasok, serta pembuatan nilai tambah nan lebih besar bagi kedua negara. Hubungan tersebut dinilai mempunyai modal kuat lantaran perekonomian Indonesia dan Jiangxi mempunyai kebutuhan serta kapabilitas industri nan saling melengkapi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2025 nilai ekspor Indonesia ke China mencapai sekitar US$67,04 miliar, sementara impor dari China mencapai US$87,54 miliar. Sehingga, Indonesia mencatat defisit perdagangan sekitar US$20,50 miliar, nomor tersebut menunjukkan besarnya kesempatan hubungan jual beli dapat diarahkan agar Indonesia memperoleh faedah nan semakin besar dari proses industrialisasi dan rantai pasok nan terbentuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Besarnya impor dari Tiongkok menunjukkan kuatnya hubungan ekonomi sekaligus mengingatkan kita bahwa kerja sama kudu semakin berkualitas. Kita mau peralatan dari Jiangxi masuk ke Indonesia sebagai bagian dari proses produksi, sementara produk Indonesia juga semakin banyak menembus pasar Tiongkok. Karena itu, orientasinya kudu bergeser dari China sells to Indonesia menjadi China and Indonesia produce together in Indonesia. Indonesia kudu diposisikan sebagai production base, bukan sekadar market," kata Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (13/9/26).
Ketua DPR ke-20 dan Ketua Komisi III DPR ke-7 itu menjelaskan, hubungan Indonesia-China sekarang mempunyai cakupan nan jauh lebih luas daripada perdagangan barang. Kerja sama telah berkembang meliputi investasi, infrastruktur, industri, energi, teknologi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, pariwisata, pertanian, ekonomi hijau, kendaraan listrik, mineral strategis hingga pembangunan area industri.
Dalam perihal kerja sama dengan Jiangxi, terdapat kesempatan besar lantaran Indonesia memerlukan pembangunan jalan, pelabuhan, energi, area industri, perumahan, transportasi dan prasarana digital. Sementara Jiangxi mempunyai pedoman industri dan pengalaman di bagian konstruksi, manufaktur, engineering, material serta peralatan industri.
"Kita mempunyai complementary economies, complementary resources, complementary markets dan complementary strengths. Indonesia memerlukan modal, teknologi, mesin, engineering dan pengembangan industri, sementara Jiangxi mempunyai kapabilitas nan relevan. Di sinilah kesempatan kerja sama kudu diperbesar. Pabrik, joint venture, local sourcing, riset dan pengembangan, serta ekspor kembali ke pasar ASEAN kudu menjadi bagian dari agenda bersama. Dengan begitu, investasi bakal menghasilkan faedah ekonomi nan lebih besar bagi Indonesia," kata Wakil Ketua Umum Koordinator bagian Politik & Keamanan KADIN Indonesia tersebut.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, salah satu sektor nan dapat menjadi kesempatan baru kerja sama adalah mineral strategis dan kendaraan listrik. Indonesia dinilai mempunyai posisi krusial dalam nikel, mineral strategis, baterai dan ekosistem kendaraan listrik, sedangkan Jiangxi mempunyai pedoman manufaktur dan teknologi nan dapat dikembangkan untuk baterai, komponen kendaraan listrik, peralatan elektrik, advanced manufacturing dan teknologi hijau.
Namun, menurut Bamsoet, kerja sama tersebut kudu dibangun dari hulu ke hilir, mulai dari pengolahan sumber daya, manufaktur, penguasaan teknologi hingga ekspor, sehingga Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar. Pada saat nan sama, investasi masa depan kudu memenuhi standar ekonomi hijau melalui daya terbarukan, efisiensi energi, pengurangan emisi, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.
"Indonesia terbuka terhadap investasi Jiangxi, tetapi investasi nan kita perlukan adalah investasi nan lebih berkualitas. Kita memerlukan investasi nan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, melakukan transfer teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, menggunakan pemasok lokal, memperkuat industri nasional dan menjaga lingkungan. Prinsipnya jelas, ialah mutual benefit, rule of law, local value creation, sustainable development dan shared prosperity. Kita mau investasi nan manfaatnya dirasakan berbareng dalam jangka panjang," imbuhnya.
(rfs/knv)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·