Hadapi El Nino 2026, Ini Cara Asian Agri Kelola Risiko Karhutla

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Pagi itu, Senin, 3 Agustus 2026, mentari sudah mulai terasa terik di Desa Teluk Panji, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Warga dan perangkat desa berkumpul di instansi desa saat tim dari Asian Agri menyerahkan pompa air, gulungan selang, serta perlengkapan pemadam kebakaran kepada Pemerintah Desa Teluk Panji.

Pemberian peralatan kepada perangkat desa itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan Asian Agri dalam menghadapi potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) akibat musim tandus nan pada tahun ini diperkirakan lebih kering akibat El Niño, menurut proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penyaluran support serupa juga dilakukan di sejumlah desa lain nan berada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Bagi Asian Agri, pompa air merupakan salah satu mata rantai dalam sistem mitigasi karhutla nan telah menyatu dengan operasional perusahaan sejak puluhan tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jauh sebelum rumor karhutla menjadi perhatian nasional menyusul kabut asap nan melanda Asia Tenggara pada dasawarsa 2010-an, Asian Agri telah menerapkan kebijakan zero burning sejak 1994.

Fokus awalnya adalah memastikan pembukaan lahan di area operasional perusahaan tidak dilakukan dengan langkah membakar. Kebijakan ini kemudian berkembang menjadi strategi pencegahan nan lebih komprehensif, disertai pengelolaan area gambut untuk menjaga tinggi muka air tanah dan mengurangi akibat kebakaran.

Seiring berjalannya waktu, pendekatan tersebut berkembang menjadi sistem mitigasi nan menggabungkan kebijakan operasional, pemanfaatan teknologi, serta kerjasama dengan masyarakat.

Dalam sistem mitigasi tersebut, pencegahan dimulai dari pemantauan titik panas (hotspot) sebagai sinyal paling awal adanya potensi kebakaran. Namun, tidak semua hotspot nan terdeteksi satelit menunjukkan adanya api.

Oleh lantaran itu, setiap titik panas diverifikasi melalui ground-truthing, ialah pemeriksaan langsung di lapangan sebelum tim menentukan langkah penanganan. Pemantauan ini juga diperkuat dengan patroli udara menggunakan drone di area rawan.

"Setiap hotspot maupun kepulan asap perlu segera diperiksa agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin," kata Fire Assistant Asian Agri Dani Nugraha kepada detikcom, Selasa (1/9/2026).

Meningkatkan Kesiapsiagaan

Asian AgriFoto: dok. Asian Agri

Menghadapi musim tandus panjang tahun ini, Asian Agri meningkatkan kesiapan personel dan peralatan, memperbanyak patroli nan melibatkan masyarakat dan pemerintah desa di area rawan, memperkuat pemantauan hotspot, serta memberikan training penyegaran bagi tim tanggap darurat.

Seluruh personil tim baru juga mengikuti training pencegahan kebakaran dan penanganan darurat di Asian Agri Learning Institute sebelum diterjunkan ke lapangan.

Kesiapsiagaan tersebut diperkuat melalui koordinasi rutin dengan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) nan melibatkan unsur pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI, dengan intensitas pertemuan nan meningkat saat musim kemarau.

Hal ini krusial mengingat potensi kebakaran tidak selalu berasal dari dalam area operasional, tetapi juga dapat merambat dari wilayah sekitar.

Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Sumatra VI/Siak Ihsan Abdillah menilai kesiapsiagaan kudu dibangun sebelum musim tandus mencapai puncaknya. Manggala Agni adalah brigade unik pengendalian karhutla di bawah Kementerian Kehutanan RI.

Ihsan menjelaskan lantaran vegetasi dan lapisan tanah bakal lebih sigap kehilangan kelembapan ketika hujan tidak turun dalam waktu lama. Tantangan juga tidak berakhir ketika api sukses dipadamkan, lantaran bara di bawah permukaan gambut tetap dapat memicu kebakaran kembali andaikan tidak dipastikan betul-betul padam, sehingga butuh pendinginan area, pemeriksaan ulang, hingga pemantauan lanjutan.

"Di sinilah peran Masyarakat Peduli Api (MPA) sangat penting, lantaran mereka nan paling dekat dan mengetahui kondisi lapangan," kata Ihsan.

Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian dari pendekatan kemitraan jangka panjang Asian Agri di sekitar wilayah operasionalnya. Pendekatan serupa juga dilakukan dalam pendampingan petani melalui pembinaan teknis dan penerapan praktik pertanian nan baik untuk membantu meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan kebun.

Pendampingan kepada petani juga mencakup pengelolaan siklus kebun, termasuk persiapan replanting agar peremajaan dapat dilakukan secara terencana dan produktivitas kebun dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Program Desa Bebas Api

Asian AgriFoto: dok. Asian Agri

Asian Agri juga melibatkan masyarakat melalui Fire Free Village Program alias Program Desa Bebas Api nan dijalankan sejak satu dasawarsa silam, ialah pada 2016, dan diawali di sembilan desa di Riau dan Jambi.

Program ini memberikan pelatihan, patroli bersama, edukasi pembukaan lahan tanpa bakar, penyediaan sarana pendukung, serta insentif bagi desa nan sukses mempertahankan wilayahnya bebas dari kebakaran.

Lebih dari sekadar penyediaan sarana dan training teknis, program ini dibangun melalui kemitraan antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah desa. Tujuannya bukan hanya menekan akibat kebakaran, tetapi juga memperkuat kapabilitas masyarakat dalam menjaga wilayahnya secara mandiri.

"Masyarakat menjadi salah satu sumber info paling krusial untuk penemuan awal kebakaran, lantaran sekitar 80% laporan awal justru berasal dari penduduk nan berada langsung di dekat lokasi," tambah Ihsan.

Kesadaran kolektif ini juga dijaga melalui sistem Fire Free Village Award, ialah penilaian tahunan nan memberikan insentif bagi desa nan sukses menekan luas area terbakar alias mencegah kebakaran sepenuhnya sepanjang tahun.

Insentif tersebut disalurkan kembali untuk kepentingan desa, seperti perbaikan akomodasi dan infrastruktur, sehingga faedah program dirasakan langsung oleh masyarakat nan menjaga wilayahnya tetap bebas api.

Saat ini program telah menjangkau 16 desa di Riau dan Jambi dengan cakupan lebih dari 343.000 hektare (Ha). Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan bisa mendeteksi dan melaporkan potensi kebakaran lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

Oleh lantaran itu, dalam sistem mitigasi karhutla nan diterapkan Asian Agri, kesiapsiagaan dibangun melalui penguatan beragam elemen, termasuk masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Peningkatan kapabilitas dan support akomodasi terus dilakukan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla secara terpadu.

Dengan pendekatan kolaboratif dan sistem kesiapsiagaan nan terus diperkuat, Asian Agri siap menghadapi potensi El Niño 'Godzilla' tahun ini serta meningkatkan upaya pencegahan agar kejadian karhutla berskala besar seperti nan pernah terjadi di Indonesia tidak terulang.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News