Ilustrasi.(Magnific)
DALAM ceramah nan penuh dengan nuansa keilmuan unik pesantren, KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias nan berkawan disapa Gus Baha, membedah kedalaman makna amaliah Attaqoh dan prinsip kalimat tauhid. Gus Baha menekankan pentingnya berdasarkan pada sanad dan logika nan lurus dalam menjalankan ibadah, terutama nan berangkaian dengan tradisi masyarakat Indonesia.
Amaliah Attaqoh: Penebusan Dosa dalam Mazhab Maliki
Gus Baha mengawali penjelasannya dengan merujuk pada kitab karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau menyebut ada riwayat mengenai amaliah Attaqoh alias nan sering dikenal di Indonesia sebagai Al-Attaqoh Al-Kubro. Amaliah ini dilakukan dengan membaca Surat Al-Ikhlas dalam jumlah tertentu sebagai corak tabarruk (mencari berkah) untuk memohon pembebasan dari api neraka.
Berdasarkan teks nan dibacanya dari kitab Sayyid Muhammad, terdapat riwayat nan menyebut pembacaan sebanyak 100 kali hingga 1.000 kali. Gus Baha secara berkelakar menanggapi ada praktik di masyarakat nan mencapai nomor jutaan kali.
Catatan Penting: Gus Baha mengingatkan agar dalam menjalankan amaliah dengan jumlah besar, seseorang tidak boleh mengeklaim jumlah tersebut sebagai perintah langsung dari Nabi Muhammad SAW jika tidak ada riwayatnya, agar tidak memberatkan umat. Namun, beliau menegaskan bahwa amaliah tersebut mempunyai dasar dalam Mazhab Maliki.
Kritik terhadap Tradisi Khataman: Anak Harus Terlibat
Satu poin krusial nan disoroti Gus Baha yaitu fenomena sosial bahwa family alias anak dari orang nan meninggal justru tidak ikut membaca saat aktivitas kirim doa. Beliau menegaskan bahwa keterlibatan family inti sangat penting.
"Alhamdulillah era akhir itu mulai agak keliru. Kalau ada acara, orang lain disuruh membaca, anaknya malah keluar masuk. Saya jamin itu keliru. Seharusnya family kudu ikut, lantaran itu corak hormat (jariyah) nan nyata," tegas Gus Baha.
Filosofi Lailahaillallah: Mengapa Tauhid Didahulukan?
Gus Baha juga menjelaskan perdebatan menarik antara urutan membaca Lailahaillallah dan istighfar. Merujuk pada Manhaj Abul Hasan Asy-Syadzili, beliau menjelaskan kenapa kalimat tauhid kudu didahulukan:
- Kekuatan Transformasi: Orang nan kafir selama puluhan tahun bisa langsung terhapus dosanya hanya dengan satu kali melafalkan Lailahaillallah.
- Syarat Istighfar: Seseorang dianggap sah beristighfar jika tauhidnya sudah benar. Tanpa fondasi Lailahaillallah, permohonan maaf tidak mempunyai injakan nan kuat.
- Logika Ketuhanan: Kalimat ini adalah corak penafian terhadap segala sesuatu selain Allah. Gus Baha membujuk jamaah menggunakan logika: jika seseorang mengaku Tuhan, apa prestasinya? Apakah dia ikut menciptakan langit dan bumi?
Dengan style penyampaian nan ringan dan mendalam, Gus Baha membujuk umat untuk tidak sekadar ikut-ikutan dalam beramal, melainkan memahami ilmu di kembali setiap kalimat tayyibah nan diucapkan. Baginya, berakidah kudu didasari oleh logika nan sehat dan sanad nan jelas dari para pembimbing nan otoritatif.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·