Guru SD di Medan Resign Usai Dilaporkan Pukul 10 Siswa Terkait PR

Sedang Trending 33 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang guru berinisial DAL di SD Negeri 060807 Medan nan diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap sejumlah siswa memutuskan untuk mengundurkan diri.

Keputusan tersebut diambil setelah pihak orang tua siswa melaporkan perbuatannya ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan.

DAL dilaporkan atas dugaan tindak kekerasan terhadap siswa nan tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdik Medan, Mujiono, membenarkan pengunduran diri pembimbing honorer tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan mundur itu murni inisiatif pribadi pembimbing nan bersangkutan, bukan atas paksaan dinas.

"Informasi terakhir nan kami dapat pembimbing tersebut sudah resign, mengundurkan diri. Dari kemarin, semenjak kejadian itu, kita perintahkan jangan ngajar dulu, dikasih piket saja. Namun nan berkepentingan mau resign, sehingga membikin surat pernyataan pengunduran diri. Jadi bukan kita nan memaksa," ujar Mujiono seperti dikutip detikSumut, Rabu (2/9).

Disdik Medan sejatinya sempat menjadwalkan agenda mediasi antara pihak sekolah dan para orang tua siswa pada Selasa (1/9). Namun, pertemuan tersebut urung terlaksana lantaran pihak pelapor tidak hadir.

"Sudah kita panggil semuanya untuk mediasi. Namun orangtua memilih untuk tidak mau datang. Sudah dibilang, sudah ditelepon juga orang tua, sudah kita panggilkan Kepala Sekolah dan wali-wali kelas, namun tetap tidak mau datang mereka," ungkap Muji.

Kendati demikian, Mujiono menyebut hubungan antarkedua pihak saat ini sudah membaik dan suasana pembelajaran di SDN 060807 Medan telah kembali kondusif. Di samping itu, hukuman administratif tetap dijatuhkan kepada pihak ketua sekolah.

"Orangtua sudah memaafkan. Sudah normal semua, hanya lantaran dari segi administrasi, kepala sekolah kan kudu kita tegur juga melalui surat peringatan (SP) agar enggak terjadi lagi hal-hal seperti ini kan," jelasnya.

Terkait kronologi kejadian, pihak kepala sekolah sempat menjelaskan bahwa pembimbing berkepentingan tidak melakukan pemukulan bentuk menggunakan tangan kosong, melainkan menepukkan kitab ke bahu serta memberikan balasan berupa squat jump. Menanggapi perihal tersebut, Mujiono menegaskan bahwa corak balasan bentuk apa pun di lingkungan sekolah tetap tidak dapat dibenarkan.

"Kepala sekolah mengatakan hanya dipukul bahu dengan buku. Tapi sekarang memang tidak boleh lagi ada hukuman-hukuman bentuk model begitu. Karena jika tidak mengerjakan PR semestinya dibina dengan baik-baik, bukan dipukul," tegas Mujiono.

Di sisi lain, Mujiono menyayangkan langkah pengunduran diri DAL mengingat statusnya nan tetap sebagai tenaga honorer. Guna menghindari prasangka sepihak, Disdik Medan meminta surat pernyataan tertulis dari pihak sekolah mengenai pengunduran diri tersebut.

"Ya kita sebenarnya iba dan tidak mau dia sampai kehilangan pekerjaan. Makanya kita minta kepsek untuk membikin pernyataan, kelak dipikir kita memaksa. Kita tidak ada memaksa, itu murni kemauan sendiri nan bersangkutan," imbuhnya.

Kasus ini bermulai pada Rabu (26/8), ketika puluhan orang tua mendatangi instansi Disdik Medan berbareng anak-anak mereka nan tetap mengenakan seragam sekolah. Kedatangan mereka bermaksud melaporkan hukuman berlebihan nan dialami sekitar 10 orang siswa akibat hambatan pengerjaan PR.

"Tadi bapak dan ibu perwakilan orang tua dan siswa dari SD Negeri 060807 mengadu tentang ada kejadian terhadap siswa nan terjadi di SD tersebut. Jadi, Dinas Pendidikan tadi juga sudah memfasilitasi orang tua dan anak-anak tentang kejadian di sekolah tersebut," tutur Mujiono saat ditemui pekan lalu.

Mujiono kembali menegaskan bahwa ruang kelas semestinya menjadi tempat nan kondusif bagi tumbuh kembang anak didik.

"Tadi mereka melaporkan bahwa terjadi semacam pemukulan terhadap anak-anak lantaran alasannya tidak mengerjakan PR. Dan itu tidak menjadi alasan, lantaran sekolah ini kan sekolah ramah anak," pungkasnya.

Selengkapnya di sini.

(gil)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional