Ilustrasi(magnific)
DOKTER ahli anak subspesialis neurologi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A, Subsp.Neuro, memberikan peringatan keras kepada para orangtua. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap anak-anak berumur di bawah tujuh tahun lantaran keterbatasan keahlian mereka dalam mengenali ancaman di lingkungan sekitar.
“Anak di bawah tujuh tahun itu belum mengerti betul bahaya, apalagi anak balita. Mana bahaya, mana tidak itu kan belum paham. Jadi kudu selalu dalam pengawasan orang tua,” ujar master nan berkawan disapa Prof. Andry tersebut saat ditemui di RSCM, dikutip Rabu (21/10).
Guru Besar Bidang Neurologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa selain belum memahami akibat fisik, anak usia balita juga mempunyai keterbatasan dalam berkomunikasi.
Mereka belum sepenuhnya bisa mengungkapkan perasaan, ketakutan, alias hal-hal nan sedang mereka pikirkan secara bening kepada orang dewasa.
Adaptasi Pengawasan di Berbagai Lingkungan
Prof. Andry mengingatkan bahwa pola pengawasan kudu berkarakter adaptif, tergantung di mana anak berada. Orangtua dituntut untuk lebih peka dan tidak boleh lengah, terutama saat berada di ruang publik.
| Dalam Rumah | Memastikan lingkungan bentuk kondusif (child-proofing) dari barang tajam, listrik, alias area tinggi. |
| Luar Rumah | Menilai potensi ancaman lingkungan baru secara jeli dan menjaga jarak bentuk nan dekat dengan anak. |
“Kalau di luar rumah kita kan tidak tahu kondusif alias tidak, kita kudu lihat dulu lingkungan ini kondusif alias tidak. Kalau tidak, ya memang kita kudu menjaga, betul-betul harus, tidak boleh lengah,” tegasnya.
Belajar dari Kasus Fatal
Pentingnya kewaspadaan ini kembali mencuat menyusul beberapa kejadian tragis nan melibatkan anak-anak baru-baru ini. Di antaranya adalah kasus seorang anak nan meninggal bumi setelah terjatuh dari anjungan hotel di Samarinda, serta kejadian viral anak nan ditinggal orang tuanya di dalam tenda saat mendaki Gunung Prau.
Menanggapi kebutuhan orang tua bakal waktu rehat alias me time, Prof. Andry menyarankan agar orang tua mengatur strategi pengasuhan nan aman. Ia menekankan bahwa beristirahat adalah kewenangan orang tua, namun keselamatan anak tetap tidak boleh dikorbankan.
“Ketika orang tuanya mau me time, mau beristirahat, ya kudu ada nan menjaga,” katanya. Ia menyarankan orang tua untuk meminta support personil family nan dipercaya, seperti kakek, nenek, alias kerabat lainnya, guna memastikan anak tetap berada di bawah pengawasan orang dewasa nan kompeten.
Sebagai penutup, Prof. Andry menegaskan kembali bahwa selama anak belum mempunyai kemandirian untuk mengenali akibat secara mandiri, kehadiran orang dewasa di sisi mereka adalah perihal nan mutlak. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·