Guru Besar UEU, Prof. Dr. Maksum Radji: AI Justru Lahirkan Apoteker Era Baru

Sedang Trending 19 jam yang lalu
 AI Justru Lahirkan Apoteker Era Baru Guru Besar UEU Prof. Maksum Radji menilai AI tidak bakal menggantikan apoteker, tetapi mendorong lahirnya Apoteker 5.0 dengan kompetensi farmasi dan teknologi digital.(Universitas Esa Unggul)

Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan munculnya wacana penyesuaian sejumlah program studi dengan kebutuhan industri masa depan, Program Studi Farmasi justru dinilai semakin strategis. Guru Besar Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University, Prof. Dr. Maksum Radji, menegaskan bahwa AI tidak bakal menggantikan pekerjaan apoteker, melainkan mendorong lahirnya Apoteker 5.0 nan memadukan kompetensi kefarmasian dengan penguasaan teknologi digital.

Menurut Prof. Maksum, perkembangan AI memang mengubah langkah kerja di bagian kesehatan, mulai dari penemuan obat, kajian info pasien, hingga otomatisasi jasa farmasi. Namun, aspek pengambilan keputusan klinis, etika profesi, komunikasi terapeutik, dan empati kepada pasien tetap menjadi kompetensi nan hanya dapat dilakukan oleh manusia.

“AI merupakan mitra strategis nan membantu meningkatkan kecermatan dan efisiensi pelayanan kefarmasian. Namun, keputusan klinis, pertimbangan etis, serta komunikasi dengan pasien tetap memerlukan skill seorang apoteker,” jelas Prof. Maksum.

Ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah peran utama apoteker nan tidak dapat digantikan oleh teknologi. Mulai dari memberikan edukasi kepada pasien mengenai penggunaan obat, memastikan keamanan terapi, hingga melakukan konseling untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.

Selain itu, kemajuan teknologi juga melahirkan beragam kesempatan pekerjaan baru di bagian kefarmasian. Salah satunya melalui pengembangan Farmasi Informatika, nan menggabungkan pengetahuan farmasi dengan kecerdasan buatan untuk mempercepat proses penemuan obat melalui molecular docking, molecular dynamics, maupun kajian big info kesehatan.

Kunjungi situs resmi Universitas Esa Unggul untuk mengetahui info terbaru seputar kegiatan, prestasi, dan program unggulan.

Prof. Maksum menambahkan bahwa lulusan farmasi di masa depan juga mempunyai kesempatan besar sebagai analis info kesehatan, konsultan farmakogenomik, developer teknologi kesehatan digital, hingga pengawas penerapan AI nan sesuai dengan izin dan etika pelayanan kesehatan.

Dalam praktik pelayanan kesehatan modern, AI telah dimanfaatkan untuk membantu proses skrining resep, mendeteksi potensi hubungan obat, memprediksi kebutuhan stok obat menggunakan algoritma prediktif, hingga mendukung jasa telefarmasi dan pemantauan pasien secara daring. Bahkan, beragam rumah sakit telah mengintegrasikan robot dispensing nan bisa mengambil dan menyiapkan obat secara otomatis.

Meski demikian, Prof. Maksum menegaskan bahwa seluruh teknologi tersebut tetap memerlukan pengawasan dan pengesahan dari tenaga farmasi profesional.

“Teknologi dapat menggantikan pekerjaan nan berkarakter administratif dan rutin, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab ahli seorang apoteker dalam memastikan keselamatan pasien,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia memperkenalkan konsep Apoteker 5.0, ialah ahli farmasi nan bisa mengintegrasikan pengetahuan kefarmasian dengan teknologi digital, kepintaran buatan, kajian data, serta pelayanan kesehatan berbasis pasien.

“Kombinasi keahlian alias hybrid skills menjadi kebutuhan utama bagi apoteker masa depan. Profesional farmasi kudu bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan etika profesi,” kata Prof. Maksum.

Rektor Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST., MBA., IPU., ASEAN Eng., mengatakan bahwa transformasi digital kudu direspons melalui pendidikan tinggi nan adaptif terhadap perkembangan industri.

“Artificial Intelligence bukan ancaman bagi bumi pendidikan, melainkan kesempatan untuk melahirkan lulusan nan mempunyai kompetensi baru. Universitas Esa Unggul terus memperkuat kurikulum berbasis teknologi, riset, dan kerjasama industri agar lulusan Farmasi bisa menjadi Apoteker 5.0 nan siap menghadapi tantangan jasa kesehatan masa depan,” ujar Arief.

Melalui penguatan kurikulum, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan riset inovatif, Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul terus mempersiapkan mahasiswa agar bisa menjawab kebutuhan industri kesehatan nan terus berkembang. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Universitas Esa Unggul dalam menghasilkan lulusan nan unggul, adaptif, dan berkekuatan saing dunia di era transformasi digital. (RO/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia