Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan deras nan mengguyur ibu kota Guinea, Conakry, memicu longsor besar di sebuah tempat pembuangan sampah (TPA) pada Minggu (23/8/2026) dan menewaskan sedikitnya 30 orang. Tumpukan sampah dalam jumlah besar runtuh dan menimbun tenda serta bangunan-bangunan sederhana di sekitarnya.
Pemerintah Guinea mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Selain 30 orang nan meninggal dunia, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan 16 lainnya mengalami luka ringan.
Bencana tersebut terjadi kurang dari sepekan setelah pemerintah mengumumkan rencana menutup letak pembuangan sampah tersebut dan memindahkan limbah ke tempat lain lantaran dianggap membahayakan masyarakat, terutama selama musim hujan.
Musim hujan di sejumlah wilayah Afrika Barat kerap meningkatkan akibat longsor dan banjir bandang mematikan, terutama di area perkotaan nan padat dan mempunyai keterbatasan infrastruktur.
Tim penyelamat langsung dikerahkan ke letak untuk mencari korban dan membersihkan material longsor. Petugas menggunakan ekskavator serta peralatan lainnya untuk menyingkirkan tumpukan sampah dan material nan menimbun area tersebut.
Sejumlah saksi mata mengatakan skala longsor sangat besar. Material sampah nan runtuh disebut cukup besar untuk menimbun sebuah gedung apartemen, selain sejumlah tempat tinggal nan kondisinya lebih sederhana dan rentan.
Besarnya akibat longsor terlihat dari kesaksian penduduk nan kehilangan personil keluarganya. Seorang wanita berjulukan Cire Diallo mengatakan lima anaknya menjadi korban dalam musibah tersebut.
"Saya telah kehilangan semua anak saya. nan bisa saya lakukan hanyalah mempercayakan diri kepada Tuhan," kata Diallo, sebagaimana dilansir Reuters.
Pemerintah tetap melakukan operasi pencarian dan pengamanan di lokasi. Alat-alat berat digunakan untuk membuka material longsor guna mencari kemungkinan korban lainnya sekaligus membersihkan area nan terdampak.
Perdana Menteri Guinea Amadou Oury Bah kemudian mendatangi letak pada Minggu untuk memandang langsung kerusakan serta mengawasi penanganan bencana.
Dalam pernyataan pemerintah, Bah meminta masyarakat untuk "tetap tenang, menunjukkan solidaritas, dan secara ketat mengikuti petunjuk dari jasa pengamanan serta pihak berwenang."
Menteri Administrasi Teritorial Guinea Djenab Toure sebelumnya mengatakan pemerintah menutup tempat pembuangan sampah tersebut dan berencana memindahkan limbah ke letak di luar Conakry. Keputusan itu diambil lantaran kondisi TPA dianggap membahayakan, terutama dengan berlangsungnya musim hujan nan meningkatkan akibat longsor.
Adapun musibah tersebut terjadi di negara nan mempunyai kekayaan sumber daya alam besar, tetapi tetap menghadapi persoalan kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur.
Guinea mempunyai persediaan bauksit terbesar di bumi serta salah satu deposit bijih besi nan belum ditambang terbesar dan terkaya di bumi di Simandou. Proyek pertambangan besar di area tersebut mulai diluncurkan pada November.
Namun, kekayaan sumber daya alam tersebut berdampingan dengan kondisi prasarana nan jelek dan tingkat kemiskinan nan tetap luas.
Menurut laporan Bank Dunia nan diterbitkan pada April, sekitar 3,7 juta dari total 15,1 juta masyarakat Guinea hidup dengan pendapatan kurang dari US$4,2 per hari.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·