Gunung Anak Krakatau Ternyata Harus Sering Erupsi, Ini Kata Mbah Rono

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pakar gunung api Surono nan berkawan disapa Mbah Rono memproyeksikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau bakal terus berjalan secara alami. Erupsi tersebut diperlukan untuk membantu Anak Krakatau membentuk kembali tubuh gunungnya.

Menurut Mbah Rono, pasokan magma nan terus-menerus masuk ke dalam tubuh gunung bakal menyebabkan akumulasi tekanan. Tekanan tersebut kemudian kudu dilepaskan melalui erupsi dengan mengeluarkan material vulkanik.

"Secara alami dia kudu melakukan ini lantaran dia itu secara alami bakal membentuk tubuhnya dan magma supply terus menerus mesti terjadi akumulasi tekanan dia kudu lepas," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).

Ia menjelaskan, material nan dikeluarkan saat erupsi bakal jatuh di sekitar tubuh Anak Krakatau. Material tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembentukan gunung sehingga secara berjenjang Anak Krakatau dapat kembali tumbuh semakin besar dan tinggi.

"Jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi Nah abu-abu lembut nan memang tersebar tinggi itu akibat dari setiap letusan gunung api seperti itu," ujarnya.

Aktivitas Erupsi Menurun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, setelah mengalami bagian erupsi menerus selama 25 jam, Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung kembali menunjukkan aktivitas erupsi dengan pola letusan ringan nan terjadi secara berkala. Meski bagian erupsi panjang telah berakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tetap terus dipantau lantaran tingkat kegempaan tetap tinggi.

Bagi masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian lantaran berangkaian dengan potensi ancaman erupsi. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekat alias melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bagian erupsi menerus Gunung Anak Krakatau nan berjalan sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berhujung pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakter letusan ringan nan selama ini menjadi karakter aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Setelah bagian erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian nan merupakan karakter unik Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari bagian erupsi menerus nan cukup panjang tersebut," ujar Lana Saria di Bandung, Senin (7/9).

Meski bagian erupsi menerus telah berakhir, pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026 tetap merekam dinamika kegempaan nan tinggi. Tercatat:

  • 3 kali gempa erupsi
  • 9 kali gempa hembusan
  • 93 kali gempa low frequency
  • 98 kali gempa hybrid/fase banyak
  • 4 kali gempa tremor menerus
  • 1 kali gempa vulkanik dangkal

Kondisi tersebut membikin tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). Lana Saria menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan tetap tinggi.

"Potensi ancaman utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," jelas Lana.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News