Jakarta -
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan erupsi Gunung Anak Krakatau hingga saat ini belum mempengaruhi penerbangan. Operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) tetap melangkah normal.
"Masih normal penerbangan (Soekarno-Hatta)," ujar Direktur Angkutan Udara di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Agustinus Budi Hartono di area Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
Pihaknya telah menerima info mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau. AirNav juga telah memberikan notifikasi mengenai aktivitas gunung tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Erupsi Anak Krakatau, saya juga baru dapat informasinya, artinya tentunya kita juga sudah saling menginformasikan nih, sekarang ada gunung Krakatau sudah erupsi,"katanya.
Saat ini, pihak airport mendeteksi keberadaan volcanic ash alias abu vulkanik. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah abu dari erupsi sudah mencapai area airport alias belum.
"Kemudian juga orang-orang di airport juga saat ini juga sudah melakukan paper test daripada volcanic ash-nya. Artinya, debu-debu daripada gunung tersebut itu sedang dideteksi apakah sudah sampai ke bandara," katanya.
Agustinus mengatakan jika abu vulkanik nan terdeteksi cukup tebal, bakal ada tindakan lebih lanjut terhadap operasional bandara. Namun, keputusan tersebut tidak dilakukan secara serta-merta lantaran terdapat prosedur nan kudu dilalui.
"Nah jika memang cukup tebal, nah biasanya itu kelak bakal ada tindakan lebih lanjut apakah kelak bandaranya itu ditutup alias tidak," jelasnya.
Menurutnya, andaikan kondisi erupsi berakibat terhadap penerbangan, AirNav bakal menerbitkan NOTAM (Notice to Airmen) sebagai pemberitahuan resmi mengenai kondisi operasional penerbangan.
"Kalau sampai pun ini ya kita nunggu NOTAM (Notice to Airmen) juga untuk penutupan bandara, kan enggak mungkin serta merta airport bisa tutup sendiri, enggak bisa," ujarnya.
Agustinus menambahkan, keputusan mengenai penerbangan bakal mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan kondisi di lapangan. Jika kondisi tetap memenuhi ketentuan keselamatan, penerbangan tetap dapat dilakukan.
Ia mencontohkan kondisi sebelumnya ketika jarak pandang berada di bawah pemisah minimum. Dalam kondisi tersebut, penerbangan tidak dapat melakukan pendaratan maupun lepas landas demi keselamatan.
"Memang rupanya visibilitinya itu di bawah kilo minimal. Jadi, rekan-rekan AirNav ini tidak berani untuk juga dia landing untuk take off," katanya.
Oleh lantaran itu, operasional penerbangan di wilayah nan terdampak dapat mengalami buka-tutup sesuai kondisi dan hasil pemantauan di lapangan.
(ada/ara)
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·