Ilustrasi(magnifik)
MENJAGA kadar gula darah tetap terkendali menjadi bagian krusial dalam pengelolaan diabetes. Namun, kadar gula nan terlalu rendah alias hipoglikemia juga perlu diwaspadai, terutama jika terjadi berulang. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan gangguan dalam jangka pendek, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan kegunaan kognitif dan peningkatan akibat demensia.
Temuan tersebut dibahas dalam tulisan review berjudul The cognitive consequences of hypoglycemia in glukosuria nan diterbitkan dalam Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism. Artikel ini ditulis oleh Natalia Ancona, Ashish K. Rehni, Suresh Mallepalli, dan Kunjan R. Dave serta pertama kali dipublikasikan secara daring pada 27 April 2026.
Ketika Gula Darah Turun Terlalu Rendah
Dalam tulisan tersebut, hipoglikemia umumnya merujuk pada kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Saat kondisi ini terjadi, tubuh dapat memberikan sejumlah tanda peringatan seperti berkeringat, jantung berdebar, dan gemetar.
Jika kadar gula semakin turun, gangguan pada kegunaan otak dapat muncul. Seseorang bisa mengalami kebingungan, mengantuk, gangguan kesadaran, apalagi kehilangan kesadaran hingga koma pada kondisi nan berat.
Masalahnya, hipoglikemia nan terjadi berulang dapat membikin tubuh semakin kurang bisa memberikan respons terhadap penurunan gula darah. Kondisi ini dapat meningkatkan akibat bagian hipoglikemia nan lebih berat pada kemudian hari.
Bisa Memengaruhi Fungsi Otak
Otak sangat berjuntai pada glukosa sebagai sumber energi. Karena itu, ketika pasokan glukosa menurun, metabolisme otak ikut terdampak.
Para penulis merangkum beragam penelitian nan menunjukkan bahwa hipoglikemia berulang dapat berangkaian dengan gangguan kegunaan mitokondria, peningkatan stres oksidatif, serta kerusakan pada sinaps. Bagian otak seperti hipokampus dan korteks juga disebut termasuk wilayah nan lebih rentan terhadap akibat hipoglikemia.
Dampaknya kemudian dapat terlihat pada keahlian kognitif. Beberapa penelitian nan dirangkum dalam tulisan menunjukkan adanya hubungan antara hipoglikemia berat dan penurunan keahlian seperti memori, perhatian, kecepatan pemrosesan informasi, serta kegunaan kognitif lainnya.
Berkaitan dengan Risiko Demensia
Tidak berakhir pada gangguan kognitif, tulisan tersebut juga membahas sejumlah meta-analisis dan penelitian kohort nan menemukan hubungan antara hipoglikemia berat dan peningkatan akibat demensia pada pasien diabetes.
Namun, hubungan tersebut tidak berfaedah hipoglikemia secara langsung menjadi satu-satunya penyebab demensia. Para penulis justru menyoroti kemungkinan adanya hubungan dua arah. Gangguan kognitif dapat meningkatkan akibat seseorang mengalami hipoglikemia, sementara bagian hipoglikemia berulang alias berat juga berpotensi berkontribusi terhadap penurunan kegunaan kognitif.
Karena itu, pengelolaan glukosuria tidak hanya perlu berfokus pada menurunkan gula darah, tetapi juga mencegah kadar gula turun terlalu rendah. Artikel tersebut menekankan pentingnya pengelolaan kadar glukosa nan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien agar sasaran pengendalian glukosuria dapat tercapai tanpa meningkatkan akibat hipoglikemia.
Sumber: SAGE Journals
English (US) ·
Indonesian (ID) ·