Emmanuela Shinta(Dok Instagram/@emmanuelashinta)
AKTIVIS suasana asal Swedia, Greta Thunberg, menyoroti krisis kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Kalimantan, Indonesia. Melalui akun Instagram resminya, @gretathunberg, Greta membagikan unggahan nan menampilkan video aktivis masyarakat budaya Dayak, Emmanuela Shinta, tentang kondisi kabut asap di Kalimantan. Unggahan tersebut membujuk masyarakat internasional memberikan perhatian terhadap akibat kebakaran rimba dan lahan nan dialami warga.
Dalam caption-nya, Greta menulis, “URGENT!! PLEASE SHARE THIS MESSAGE FROM KALIMANTAN, INDONESIA.” Ia kemudian menambahkan, “Fires and haze crisis is far from over. As terrifying as this footage is, the reality on the ground is much worse than what you see on social media.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa krisis kebakaran dan kabut asap tetap jauh dari selesai. Greta juga membujuk masyarakat mendukung kampanye penggalangan biaya Borneo’s Fir dungi Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana tersebut ditujukan untuk membantu petugas pemadam kebakaran, membangun tempat perlindungan dari kabut asap, melindungi golongan rentan, dan menjaga rimba nan tersisa.
Dalam unggahannya, Greta mencantumkan Donorbox untuk masyarakat internasional dan Kitabisa bagi masyarakat Indonesia. Ia juga menyebut Ranu Welum Foundation dan tim pemadam kebakaran Youth Act Kalimantan sebagai bagian dari upaya support nan dipromosikan.
Netizen Serukan “Save Kalimantan!”
Unggahan tersebut mendapat beragam tanggapan dari pengguna Instagram. Dalam tangkapan layar kolom komentar, sejumlah warganet menyampaikan apresiasi atas perhatian terhadap kondisi Kalimantan dan berambisi krisis tersebut segera berakhir.
Akun @andovidal lopez menulis, “Thank you Greta!” Sementara itu, akun @rzllmsy menyampaikan, “Terimakasih banyak, semoga dapat perhatian bumi dan segera selesai.”
Komentar lain datang dari akun @jovialdalopez nan menuliskan, “The world needs to know! Thank you Greta, SAVE KALIMANTAN!” Ungkapan tersebut memperlihatkan angan agar info mengenai akibat karhutla menjangkau masyarakat internasional.
Adapun akun @balaishumaira77 mempertanyakan gimana karhutla kudu dipahami dalam konteks kemanusiaan. “Pertanyaan gue cuman satu karhutla ini cocok disebut musibah alias genosida?” tulis akun tersebut. Pernyataan itu merupakan pendapat pengguna media sosial, bukan konklusi norma mengenai peristiwa karhutla.
Mengenal Greta Thunberg dan Aktivismenya
Greta Thunberg mulai dikenal luas pada 2018 ketika melakukan tindakan mogok sekolah di depan parlemen Swedia untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan nyata terhadap perubahan iklim. Aksi nan awalnya dilakukan seorang diri tersebut kemudian menginspirasi aktivitas Fridays for Future, nan melibatkan pelajar dan anak muda dari beragam negara dalam kampanye iklim.
Greta selanjutnya dikenal melalui demonstrasi, pidato publik, dan kritik terhadap lambatnya penanganan krisis iklim. Aktivismenya menjadikannya salah satu figur muda nan dikenal dalam aktivitas lingkungan global.
Akun Instagram resmi Greta, @gretathunberg, mempunyai sekitar 17,1 juta pengikut, berasas nomor nan diperoleh saat pengecekan. Jumlah tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. Jangkauan media sosialnya menjadi salah satu saluran untuk menyebarkan pesan mengenai rumor lingkungan kepada audiens lintas negara.
Karhutla Mengancam Kesehatan Masyarakat
Karhutla tidak hanya merusak rimba dan kediaman satwa, tetapi juga meningkatkan akibat gangguan kesehatan akibat paparan asap. Partikel lembut seperti PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan dan membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit tertentu.
Dalam-nya, Greta menyebut klaim mengenai dua juta hektare rimba nan terbakar, korban jiwa, serta 277.075 orang nan disebut dirawat di rumah sakit akibat jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA). Angka dan klaim tersebut perlu dibedakan dari info resmi nan telah diverifikasi.
Kementerian Kesehatan RI melaporkan pemantauan 277.075 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak hingga 12 Oktober 2026. Angka kasus tersebut tidak berfaedah seluruh pasien dirawat di rumah sakit alias seluruh kasus terbukti disebabkan langsung oleh asap karhutla.
Perlindungan masyarakat, pemadaman kebakaran, pemantauan kualitas udara, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem tetap menjadi bagian krusial dalam penanganan karhutla. Sorotan internasional dapat memperluas perhatian publik, tetapi penyelesaian krisis memerlukan tindakan nyata dan berkelanjutan. (Nur Azhizah Yulianis/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·