Menteri Komunikasi dan Digital (Menteri Komdigi) Meutya Hafid,(Dok. Metro Tv)
GOOGLE dan YouTube meluncurkan Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja alias Digital Wellbeing Guidebook berbareng Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia, Senin (8/6). Panduan itu dirancang untuk membekali orang tua dan organisasi sekolah dalam mendampingi remaja menghadapi tantangan psikologis di ruang digital.
Peluncuran ini merupakan bagian dari inisiatif AKSI Digital nan digulirkan pada Januari lalu, dan mendapat support penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Panduan ini juga menjadi instrumen pendukung penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik alias PP Tunas.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menteri Komdigi) Meutya Hafid menegaskan tujuan izin ini bukan melarang anak memasuki bumi digital, melainkan menunda paparan terhadap hal-hal berbahaya.
"Dunia digital hari ini adalah rumah baru bagi anak-anak kita, di mana kita wajib menjaga pintu dan jendela agar mereka tetap kondusif di dalam ruang siber. Melalui patokan PP Tunas, tujuan kita bukan melarang anak masuk ke bumi digital, melainkan menunda hal-hal rawan seperti ancaman kontak dengan orang tak dikenal, paparan konten negatif, hingga adiksi," ujar Meutya.
Sebagai bagian dari inisiatif ini, sekitar 2.500 pembimbing Bimbingan Konseling ditargetkan mendapat training melalui BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta. Hingga sekarang 1.000 pembimbing sudah mengikuti training tersebut.
Pakar Psikiatri Anak dan Remaja nan juga salah satu penulis utama pedoman ini, Tjhin Wiguna, mengatakan kitab itu sengaja disusun dalam bahasa nan sederhana agar dapat digunakan oleh orang tua, guru, dan masyarakat umum.
Isinya mencakup perkembangan remaja di era digital, tantangan psikologis nan muncul, hingga strategi pendampingan nan bisa diterapkan di rumah dan sekolah.
"Teknologi bukanlah musuh nan kudu dijauhi, melainkan perangkat nan perlu digunakan secara bijak. Dengan pemahaman nan baik, remaja dapat memanfaatkan teknologi untuk berkembang secara positif tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan nyata," ujar Tjhin.
Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC Celeste Campbell-Pitt mengatakan filosofi nan mendasari inisiatif ini sederhana namun tegas.
"Kami bermaksud untuk melindungi mereka di bumi digital, bukan dari bumi digital," ujar Celeste.
YouTube juga memperkenalkan sejumlah fitur keamanan baru, termasuk pengatur lama menonton Shorts dan pengingat waktu tidur nan dapat disesuaikan oleh orang tua.
Platform ini juga menerapkan prinsip kualitas baru dalam sistem rekomendasinya untuk meningkatkan gelombang konten edukatif sekaligus membatasi konten nan dinilai kurang baik bagi remaja jika dikonsumsi berulang.
Berdasarkan riset Ipsos nan dirilis Agustus 2025, 89 persen orang tua menyatakan anak mereka mendapat faedah dari YouTube untuk belajar, 92 persen menilai YouTube membikin pendidikan lebih mudah diakses, dan 96 persen pembimbing di Indonesia sudah mengintegrasikan YouTube ke dalam metode pembelajaran mereka.
Program ini juga mencakup literasi siber berbareng ICT Watch untuk mencegah perundungan siber dan kecanduan gawai, dengan menyasar remaja usia 13 hingga 16 tahun. Para mitra berkomitmen memperluas cakupan training ke lebih banyak family dan pendidik di seluruh Indonesia setelah fase percontohan ini selesai. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·