Global South Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Geopolitik dan Percepatan Teknologi

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Global South Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Geopolitik dan Percepatan Teknologi Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERUBAHAN geopolitik dan percepatan transformasi digital mendorong negara-negara Global South memperkuat kerja sama dan menata kembali strategi menghadapi tatanan bumi nan semakin terfragmentasi. Penguatan institusi, sumber daya manusia, teknologi, dan kerjasama antarnegara dipandang krusial agar negara berkembang tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan global.

Isu tersebut mengemuka dalam The 6th International Conference of Social Politics (Icosop) 2026 nan digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Nasional (Unas) secara hybrid di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Mengangkat tema Reconfiguring the Global South in a Fragmented World: Digital Transformation, Governance, and Inclusive Futures, konvensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari beragam negara.
Duta Besar Rwanda untuk Indonesia His Excellency Sheikh Abdul Karim Harelimana selaku keynote speaker, mengatakan negara-negara Global South perlu menata kembali strategi menghadapi perubahan dunia.

Menurutnya, fragmentasi tidak semestinya menghalang kerja sama selama perbedaan kepentingan tak berkembang menjadi perpecahan. Perkembangan teknologi, geopolitik, dan hubungan internasional juga menuntut pendekatan baru dibandingkan dengan era Konferensi Asia-Afrika 1955.

“Kita perlu menata kembali dan bergerak mengikuti perkembangan dunia. Kita kudu menghadapi tantangan baru dengan solusi baru,” tegasnya. 

Sheikh Abdul Karim Harelimana menyatakan transformasi digital kudu dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

Ia mencontohkan Rwanda nan mengembangkan jasa pemerintahan digital sehingga masyarakat bisa mengakses sejumlah jasa tanpa kudu datang langsung ke instansi pemerintah.

Dia juga menyoroti penggunaan drone untuk mendistribusikan darah dan kebutuhan medis ke wilayah nan susah dijangkau. Namun, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Literasi digital, pemerataan akses, tata kelola, perlindungan data, keamanan siber, dan kepercayaan publik kudu menjadi bagian penting.

“Negara-negara nan tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi bakal semakin tertinggal,” ujarnya.

Selain teknologi, dia mendorong penguatan kerja sama Selatan-Selatan dalam pendidikan, inovasi, kesehatan, pertanian, perdagangan, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia. “Kita perlu memperkuat kerja sama di antara negara-negara Global South. Rwanda dapat belajar dari Indonesia, Indonesia dapat belajar dari Rwanda, Afrika dapat belajar dari Asia, dan Asia dapat belajar dari Afrika,” katanya.

Sheikh Abdul Karim Harelimana juga menegaskan masa depan Global South kudu dibentuk secara aktif oleh negara-negara di dalamnya melalui investasi pada manusia, penguatan institusi, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, dan pembangunan kemitraan.

“Masa depan Global South tidak semestinya hanya dibentuk untuk kita. Kita kudu mempunyai peran nan berarti dalam membentuk masa depan tersebut,” katanya.

Dekan Fisip Unas Aos Yuli Firdaus mengatakan perkembangan geopolitik, teknologi, tata kelola, dan kehidupan sosial menghadirkan kesempatan sekaligus tantangan, termasuk ketimpangan, ketergantungan teknologi, dan persoalan otonomi strategis.

“Transformasi digital dan teknologi nan berkembang menghadirkan beragam kemungkinan baru bagi pembangunan dan kerja sama, sekaligus menimbulkan pertanyaan krusial mengenai ketimpangan, tata kelola, ketergantungan teknologi, dan otonomi strategis,” tuturnya.

Ketua Pelaksana Icosop 2026 Atina Izza mengatakan bumi sekarang semakin terkoneksi, tetapi sekaligus semakin terfragmentasi akibat perubahan teknologi, kejuaraan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, dan perubahan tata kelola global. “Kita menyaksikan bumi nan semakin terhubung, tetapi pada saat nan sama juga semakin terfragmentasi,” ujarnya.

Menurut Atina, Icosop 2026 tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga sebagai ruang perbincangan bagi akademisi, kreator kebijakan, praktisi, dan mahasiswa untuk berganti perspektif serta membangun kolaborasi.
Icosop 2026 turut membahas isu-isu strategis, mulai dari persaingan kekuatan besar, kerakyatan digital, kepintaran buatan dan ketimpangan komunikasi, dekolonisasi pengetahuan sosial, hingga keamanan dan pertahanan.

"Forum ini menegaskan tantangan Global South semakin saling berkaitan, mulai dari geopolitik, teknologi, ekonomi, tata kelola hingga pembangunan manusia. Karena itu, penguatan jejaring dan kerja sama lintas negara dinilai krusial untuk membangun Global South nan lebih inklusif, adaptif, resilien, dan mempunyai posisi strategis dalam tatanan dunia," pungkas Atina. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia