Gilimanuk Sudah Overload, Gubernur Bali Usul Bangun 4 Pelabuhan Baru

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali berbareng Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana membangun pelabuhan pengganti selain Pelabuhan Gilimanuk untuk memecah kepadatan kendaraan di pelabuhan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Dalam rapat kerja (raker) berbareng Komisi V DPR RI, Rabu (8/4/2026), Gubernur Bali I Wayan Koster mengusulkan pembangunan empat pelabuhan baru untuk pikulan logistik, agar nantinya truk-truk logistik tidak perlu melewati penyeberangan Gilimanuk. Adapun keempat pelabuhan baru tersebut ialah Pelabuhan Celukan Bawang Buleleng, Pelabuhan Sangsit Buleleng, Pelabuhan Amed Karangasem, dan Pelabuhan Gunaksa Klungkung.

"Kami mengusulkan rencana pembangunan pelabuhan pikulan logistik baru di empat lokasi, ialah di Buleleng ada Celukan Bawang dan Sangsit, di Karangasem ada Amed, dan di Klungkung ada Gunakse," kata Koster dalam paparannya di raker berbareng Komisi V DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Koster menjelaskan, usulan ini dilakukan lantaran jumlah kendaraan jalur darat melalui penyeberangan Gilimanuk-Ketapang semakin meningkat. Apalagi, Tol Trans Jawa semakin mendekati Banyuwangi Jawa Timur, sehingga potensi peningkatan kendaraan ke Bali makin meningkat.

"Mengapa kami mengusulkan ini? Karena transportasi dari Jawa ke Bali makin meningkat, terutama penumpang umum maupun juga visitor nan dari Jawa lantaran Tol Trans Jawa itu sudah makin mendekat ke Banyuwangi, sehingga makin banyak visitor sekarang ini tidak lagi naik udara tapi banyak menggunakan kendaraan pribadi. Jadi kendaraan nan ke Bali itu makin banyak," lanjutnya.

Selain itu, rencana pembangunan pelabuhan baru ini setelah terjadinya kemacetan parah nan terjadi di penyeberangan Gilimanuk-Ketapang pada arus mudik Lebaran 2026, di mana kejadian ini disebabkan lantaran tetap tingginya operasional kendaraan logistik Jawa-Bali.

"Jadi lantaran itu salah satu nan menjadi unsur penyebab kemacetan tertinggi itu adalah pikulan logistik nan menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, termasuk pada arus mudik Lebaran kemarin, itu macetnya luar biasa," ujarnya.

Dengan adanya rencana pelabuhan baru tersebut, nantinya arus kendaraan darat tidak lagi bertumpu di penyeberangan Gilimanuk-Ketapang. Kedepan, kendaraan penumpang seperti sepeda motor, mobil pribadi, bus umum, dan travel tetap bisa mengakses Pelabuhan Gilimanuk. Namun untuk kendaraan peralatan alias logistik, bakal diarahkan ke empat pelabuhan baru tersebut.

"Jadi kami menginginkan agar kendaraan dari Ketapang tidak lagi bertumpu di Gilimanuk, tetapi bisa terbagi ke Pelabuhan Celukan Bawang bagi nan mau ke Bali bagian utara, ke Pelabuhan Pelabuhan Amed kalau mau ke Bali timur, jika mau ke selatan bisa ke Pelabuhan Gunakse," terangnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan pembangunan dermaga Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng dan tiga pelabuhan lainnya dilakukan untuk memecah arus kendaraan nan melakukan penyeberangan melalui Pelabuhan Gilimanuk dari Pelabuhan Ketapang maupun sebaliknya, di mana perihal ini membikin kemacetan panjang saat arus mudik Lebaran 2026 lalu.

"Pembangunan dermaga Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng sebagaimana tadi nan disampaikan oleh Pak Gubernur, kami sudah membahas mengenai gimana mengatasi penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk dan salah satu alternatifnya dalam pengembangan pelabuhan termasuk diantaranya mengembangkan pelabuhan ferry di wilayah utara maupun di wilayah timur Bali dengan angan kita bisa memecah kendaraan dari dan menuju Bali," kata Dudy.

Ia pun berambisi dengan pembangunan pelabuhan baru ini dapat memecah kendaraan seperti nan sudah dilakukan di penyeberangan Merak-Bakauheni, di mana semua kendaraan tak lagi berfokus di dua pelabuhan tersebut.

"Harapannya bisa kita lakukan seperti nan ada di Lampung dan Merak ntuk penyeberangan Merak-Bakauheni saat arus mudik dan kembali lebaran," jelasnya.

Dudy menambahkan, saat ini kapabilitas Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang sudah cukup terbatas untuk menampung semua kendaraan nan bakal melakukan penyeberangan Jawa-Bali, terutama disaat libur panjang, sehingga sudah semestinya kendaraan dipisah.

"Kami memandang bahwa memang sangat diperlukan antisipasi sebagaimana nan dikerjakan kami di Lampung dan Banten nan mempunyai beberapa pelabuhan pengganti dalam rangka penyeberangan, dan sebagaimana mungkin Pak Gubernur bisa saksikan kemarin saat arus mudik Lebaran 2026, kita tidak bisa lagi menyatukan antara kendaraan berat dengan kendaraan-kendaraan mini dimana kapabilitas pelabuhan maupun jalan sudah tidak memadai lagi," terangnya.

(chd/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News