Presiden FIFA Gianni Infantino.(Saeed KHAN / AFP)
PRESIDEN FIFA, Gianni Infantino, bakal menghadapi cecaran pertanyaan dari para personil Dewan FIFA dalam rapat nan diprediksi berjalan panas di markas besar Zurich, Kamis (15/10) waktu setempat. Infantino bakal dicecar mengenai sejumlah rumor krusial seperti rencana penjualan kewenangan komersial Piala Dunia nan berujung batal, skandal Folarin Balogun, hingga keputusan kontroversial memberikan penghargaan perdamaian FIFA (FIFA Peace Prize) perdana kepada Donald Trump.
Sebelumnya, Infantino berulang kali menolak dorongan menggelar rapat umum luar biasa majelis pada musim panas lalu, usai mencuatnya proposal Fifa Forward Enterprise (FFE). Pertemuan di Zurich ini menjadi arena tatap muka pertamanya dengan para pengkritik tajam. Salah satu peserta rapat apalagi memprediksi obrolan bakal berjalan "sangat memanas".
Tiga ketua konfederasi besar, Aleksander Ceferin (Presiden UEFA), Victor Montagliani (Presiden Concacaf), dan Sheikh Salman Bin Ibrahim al-Khalifa (Presiden AFC) turut hadir. Ketiganya, nan sebelumnya kompak mendesak Infantino mundur, bakal kembali menekan FIFA agar melakukan pertimbangan independen terhadap tata kelola organisasi.
Sebagai respons atas surat dorongan nan dikirim bulan lalu, Infantino sebenarnya berjanji menunjuk pihak eksternal untuk meninjau tata kelola FIFA di masa depan. Namun, lantaran detailnya belum dipaparkan, muncul keraguan di kalangan personil mengenai seberapa independen proses pertimbangan tersebut nantinya.
Isu Gaji Kedua
Tak hanya rumor FFE, skandal Balogun, dan FIFA Peace Prize, Infantino juga berpotensi dicecar soal laporan terbaru The Times. Media tersebut membeberkan bahwa Infantino diduga menerima "gaji kedua" sekitar £1,3 juta (sekitar Rp30,91 miliar) pada 2024. Nominal ini berada di luar pendapatan resminya sebesar £3,9 juta (sekitar Rp92,71 miliar) nan tercantum dalam laporan finansial FIFA.
Berdasarkan berkas Internal Revenue Service (IRS) Amerika Serikat, salah satu anak perusahaan FIFA nan mengelola Piala Dunia musim panas lampau bayar Infantino sebesar $1,76 juta. Angka ini tidak dicantumkan dalam laporan tahunan FIFA, nan hanya mencatat pendapatannya sebesar 4,27 juta franc Swiss alias setara £3,86 juta (sekitar Rp91,76 miliar).
Padahal, Statuta FIFA dengan tegas menyatakan bahwa "kompensasi perseorangan Presiden FIFA wajib dipublikasikan."
Menanggapi perihal tersebut, pihak FIFA membantah keras tuduhan pelanggaran.
"FIFA tidak bayar penghasilan kedua kepada Presiden FIFA dan mematuhi seluruh ketentuan pelaporan kompensasi," rilis pihak FIFA. "Kompensasi tahunan Presiden FIFA, beserta faedah kontraktual lainnya, ditentukan oleh subkomite kompensasi independen."
FIFA juga menolak tuduhan menyembunyikan info keuangan. "Laporan finansial FIFA diaudit secara independen, dan seluruh deklarasi telah sesuai dengan patokan perpajakan di Swiss, Amerika Serikat, maupun wilayah lainnya."
Melenggang Mulus
Meskipun dihantam rentetan kontroversi dan mendapat penolakan terbuka dari konfederasi Eropa, Asia, serta Amerika Utara dan Tengah, Infantino sejauh ini tetap berada di jalur mulus untuk terpilih kembali tanpa musuh pada pemilihan Maret mendatang.
Montagliani telah menolak dipasangkan melawan Infantino lantaran memilih konsentrasi pada pemilihan Presiden Concacaf. Sementara itu, UEFA belum menemukan kandidat alternatif, meski sempat menjajaki beberapa tokoh ternama seperti Arsène Wenger hingga pemilik London City Lionesses, Michele Kang.
Batas waktu pendaftaran calon Presiden FIFA ditetapkan hingga 18 November 2026, sedangkan pemungutan bunyi bakal digelar pada Kongres FIFA di Rabat, 18 Maret mendatang.
Di tengah tekanan rapat Zurich, Infantino diprediksi bakal mengusulkan suntikan biaya tambahan sebesar £2,6 miliar (sekitar Rp61,81 triliun) dari kas persediaan FIFA untuk program pengembangan sepak bola global. Lonjakan pendanaan untuk periode 2027-2030 ini bakal melipatgandakan total alokasi pengeluaran pengembangan sepak bola FIFA menjadi £4,83 miliar (sekitar Rp114,82 triliun).
(Theguardian/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·