Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Tinggi Kepresidenan Palestina untuk Urusan Gereja menyerukan tindakan internasional untuk menyelamatkan sekolah-sekolah Kristen di Yerusalem. Seruan ini disampaikan setelah Israel menghalangi sejumlah pembimbing dan staf dari Tepi Barat mencapai tempat kerja mereka.
Dalam pernyataannya pada Rabu, komite tersebut mengatakan otoritas Israel menolak menerbitkan maupun memperbarui izin masuk bagi sejumlah pembimbing dan staf asal Tepi Barat. Kondisi ini membikin mereka tidak dapat mengajar dan bekerja di sekolah-sekolah Kristen di Yerusalem.
"Langkah-langkah ini memaksa lembaga-lembaga pendidikan Kristen untuk menyatakan pemogokan tanpa pemisah waktu, nan membahayakan tahun aliran 2026-2027 dan menghalangi para siswa untuk kembali ke ruang kelas mereka," kata komite tersebut, seperti dikutip Middle East Monitor, Jumat (4/9/2026).
Komite menilai pembatasan itu telah merampas "hak dasar atas pendidikan" anak-anak Palestina. Mereka juga memperingatkan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari "eskalasi pembatasan nan lebih luas nan diberlakukan terhadap pendidikan Palestina di Yerusalem".
Selain persoalan izin bagi tenaga pendidik, komite menyoroti penerapan kurikulum Israel di sekolah-sekolah Palestina. Mereka juga merujuk pada undang-undang nan disahkan Knesset pada Januari 2026 nan disebut "membatasi perekrutan lulusan dari lembaga pendidikan tinggi Palestina".
Menurut komite, rangkaian kebijakan tersebut "menggerogoti identitas Yerusalem" dan bertentangan dengan norma internasional serta resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) nan menegaskan status Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan. Mereka juga menyebut kebijakan itu melanggar ketentuan Konvensi Jenewa Keempat.
Komite menegaskan bahwa "pendidikan adalah hak, bukan kewenangan istimewa". Mereka mengatakan sekolah-sekolah Kristen merupakan bagian dari sejarah Yerusalem dan kehadiran gereja di kota tersebut, serta selama bertahun-tahun melayani generasi penduduk Palestina, baik Kristen maupun Muslim.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·