Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul Bekali Pelaku Usaha agar Jamu Makin Dikenal

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Liputan6.com, Solo - Angkringan selama ini dikenal sebagai tempat makan sekaligus ruang berkumpul masyarakat. ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan bersosialisasi. Karakter tersebut membikin angkringan dinilai mempunyai potensi untuk menjadi salah satu ruang nan mendekatkan kembali jamu kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

Sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam melestarikan budaya jamu, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) mengadakan aktivitas training meracik jamu dalam rangka mendukung "Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul" di Ballroom Borobudur 2, Novotel Hotel Solo, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 100 pelaku upaya angkringan di Kota Surakarta dan sekitarnya. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai bahan dan faedah jamu, langkah meracik dan menyajikan jamu Sido Muncul serta penerapan kebersihan dan sanitasi dalam pengelolaan usaha.

Direktur Sido Muncul Maria Reviani Hidayat mengatakan, "Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul" merupakan salah satu program perusahaan menyambut usia ke-75 pada November 2026. Selain memberdayakan pelaku upaya angkringan, program tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi minum jamu di tengah perubahan style hidup masyarakat.

Menurut Maria, kesiapan produk jamu di warung maupun toko belum otomatis membikin kebiasaan minum jamu tetap bertahan. Karena itu, diperlukan pendekatan nan lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

"Produk-produk kami sudah dijual dan mudah ditemui di warung maupun toko seperti Tolak Angin alias KukuBima. Tetapi, nan mau kami sorong bukan hanya soal kesiapan produk. Kami juga mau ikut melestarikan budaya minum jamu," ujar Maria dalam sambutannya.

Maria memandang angkringan mempunyai kedekatan dengan tradisi masyarakat Indonesia. Kebiasaan duduk berbareng sembari menikmati minuman, termasuk jamu, menurut Maria merupakan bagian dari pengalaman sosial nan perlu terus dijaga.

"Kita punya budaya nan bagus, salah satunya tradisi duduk di angkringan sembari minum jamu. Itu merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat. Kalau tidak kita pertahankan, lama-kelamaan bisa semakin hilang," katanya.

Dari Yogyakarta, Gerakan Berlanjut ke Surakarta

Kegiatan training angkringan di Surakarta merupakan kelanjutan dari program serupa nan digelar Sido Muncul di Yogyakarta pada 2025 dengan melibatkan 100 pelaku upaya angkringan. Setelah program berjalan, jumlah angkringan nan berasosiasi sekarang telah mencapai 200.

Maria mengatakan, pemilihan Yogyakarta dan Surakarta bukan tanpa alasan. Kedua kota tersebut dinilai mempunyai kekayaan budaya nan kuat sehingga relevan dengan upaya memperkenalkan kembali jamu sebagai bagian dari tradisi masyarakat.

"Kita mau melestarikan minum jamu sebagai budaya Indonesia. Karena itu, Yogyakarta dan Surakarta cocok sekali untuk menjadi bagian dari aktivitas ini. Kita tahu kedua kota ini juga sangat kental dengan budaya," ujarnya.

Bekali Pelaku Usaha Angkringan Meracik Jamu Sido Muncul

Pelatihan tidak hanya memperkenalkan jamu sebagai pilihan menu, tetapi juga memberikan pengetahuan praktis nan dapat diterapkan pelaku angkringan dalam menjalankan usahanya.

Peserta mempelajari bahan dan faedah jamu, teknik meracik dan menyajikannya, serta pentingnya menjaga kebersihan dan sanitasi.

Maria mengatakan, pelaku angkringan mempunyai kesempatan untuk memperkaya menu dengan minuman nan selama ini dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.

"Bapak dan Ibu punya potensi untuk menambah kekayaan menu di angkringan masing-masing. Karena itu, kami mau berbagi pengetahuan tentang jamu, mulai dari bahan dan manfaatnya hingga langkah meraciknya agar lezat dan mudah diterima konsumen," tuturnya.

Menurut Maria, pemahaman mengenai kebersihan dan sanitasi juga menjadi bagian krusial dalam pengelolaan upaya kuliner. Hal tersebut diberikan agar pelaku angkringan tidak hanya mempunyai tambahan pengetahuan mengenai jamu, tetapi juga dapat menerapkannya dalam proses penyajian.

Selain keahlian meracik, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan media sosial. Kanal digital dinilai dapat membantu pelaku upaya memperkenalkan menu dan menjangkau konsumen secara lebih luas.

"Di era sekarang, media sosial menjadi salah satu sarana untuk promosi dan memperkenalkan usaha. Harapannya, pengetahuan ini bisa membantu Bapak dan Ibu mengembangkan angkringan masing-masing," kata Maria.

Angkringan Bisa Mendekatkan Jamu kepada Generasi Muda

Upaya memperkenalkan jamu melalui angkringan juga mendapat support dari UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Saryanto. Ia mengatakan, angkringan mempunyai ruang nan cukup dekat dengan kebiasaan masyarakat, termasuk anak muda nan menjadikannya tempat untuk berkumpul.

"Program angkringan ini suatu modalitas alias ranah nan sangat tepat. Karena sekarang anak muda itu, katakanlah, banyak nan nongkrong alias sedang menjalani style hidup sehat," ujar Saryanto.

Ia juga memandang keberadaan jamu di angkringan dapat memberikan pilihan lain bagi visitor nan selama ini lebih familiar dengan minuman seperti kopi, teh, alias wedang.

"Saya kira jamu di angkringan ini bakal tumbuh dengan baik ketika anak muda mau alias sering berada di angkringan, tetapi dengan ada sesuatu nan berbeda, ialah jamu," katanya.

Saryanto juga menilai penyajian jamu dapat mengikuti perkembangan style hidup masyarakat. Contohnya produk jamu nan lebih praktis lantaran dapat disajikan tanpa ampas.

"Kalau dulu ada serbuk alias jamu komplit, sekarang sudah dibuat jamu komplit nan larut, jadi tidak ada ampasnya. Ketika diseduh, bentuknya cair alias murni, kemudian bisa dikombinasikan dengan enak," ujar Saryanto. 

Pengalaman Pelaku Angkringan Meracik Jamu: Dari Eksperimen Rasa dan Menambah Menu Baru

Pelatihan meracik jamu nan diikuti 100 pelaku upaya angkringan di Solo dan sekitarnya tidak sekadar menjadi kesempatan untuk belajar membikin minuman tradisional. Melainkan juga membuka kesempatan untuk mengembangkan langkah baru dalam menyajikan jamu agar lebih dekat dengan selera generasi muda.

Dalam training ini, Barista Jamu Profesional Tersertifikasi BNSP Adi Febri Yanto membagikan sejumlah menu racikan jamu nan dapat digunakan pelaku upaya angkringan. Sederet menu racikan jamu nan datang antara lain Jamu Komplit, Kuku Bima Jahe, Teh Susu Jahe, Es Tealang, Slim Shady, hingga Senja Linu

Salah satu pelaku upaya angkringan di Solo, Deddy Cahyo Handoko mengaku proses training melangkah lancar dan menyenangkan. Saat demo produk, Deddy mencoba membikin minuman dengan memadukan KukuBima TL dan Alang Sari Plus, ditambah biji selasih serta sedikit madu.

"Pelatihan hari ini lancar dan tidak banyak hambatan. Kemudian juga sangat seru. Untuk hasilnya sendiri, nyaris sempurna, 9 per 10," kata Deddy.

Menurut Deddy, perpaduan KukuBima san Alang Sari menjadi salah satu langkah untuk mengenalkan jamu kepada anak muda, khususnya mahasiswa nan mungkin belum terbiasa mengonsumsi jamu.

"Mungkin banyak mahasiswa ataupun anak muda nan tidak suka minum jamu, dengan gambarannya jamu itu pahit alias mungkin tidak enak," ujarnya.

Deddy berambisi kreasi minuman dapat menjadi pintu masuk agar tradisi jamu tetap dikenal generasi berikutnya.

"Harapan kami ke depannya, tentu saja budaya dan tradisi jamu, terutama di Indonesia ini, tetap bersambung ke generasi-generasi selanjutnya," katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Hariani Yuliana, pelaku upaya angkringan di area Gandean, Jebres. Ia belajar meracik Kunyit Asam Sido Muncul nan dipadukan dengan Alang Sari.

Bagi Hariani, pengalaman tersebut menjadi pengetahuan baru nan dapat diterapkan di angkringannya.

"Insya Allah kelak di angkringan kita coba. Ini baru pertama kali kita bikin, kita praktik. Insya Allah kelak ke angkringan saya. Mudah-mudahan saja sukses," tutur Hariani.

Ia menilai training berbareng Sido Muncul ini mengingatkan pelaku upaya untuk ikut menjaga keberadaan jamu sebagai bagian dari kekayaan rempah Indonesia.

"Kita kan kudu melestarikan budaya kita. Kita punya kekayaan rempah-rempah, harusnya kita melestarikan," ujarnya.

Peluang Menambah Pilihan Minuman di Angkringan

Masuknya jamu ke angkringan juga menjadi kesempatan untuk memperkaya pilihan menu sekaligus menambah pengetahuan mengenai langkah penyajiannya.

Pelaku upaya angkringan di BTC Solo, Wempy mengapresiasi training dari Sido Muncul lantaran dapat memberikan pengetahuan sekaligus membuka kesempatan bagi angkringannya untuk berkembang. Ia juga memandang program tersebut sejalan dengan upaya mengenalkan kekayaan rempah Indonesia melalui jamu.

"Kita juga mau melestarikan jamu nan sudah lama ada, memperkenalkan kekayaan rempah-rempah kita, lantaran hasil rempah itu berasal dari Indonesia. Dengan adanya program ini, saya juga sangat setuju lantaran kita bisa memajukan angkringan," ujarnya.

Melalui kerjasama dengan pelaku angkringan, Sido Muncul berambisi tradisi minum jamu dapat datang lebih dekat dengan masyarakat, mengikuti perkembangan zaman, dan lebih mudah diterima oleh pasar nan lebih luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian jamu sebagai warisan budaya Indonesia, dengan menjadikan angkringan sebagai salah satu ruang untuk memperkenalkannya kepada konsumen.

Setelah Yogyakarta dan Solo, Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul bakal diperluas ke sejumlah kota, seperti Semarang, Surabaya, hingga Jakarta,

(*)

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita