Gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina untuk menghormati Paskah Ortodoks berhujung pada Senin (13/4). Keduanya langsung saling menuduh mengenai siapa nan bertanggung jawab atas ratusan pelanggaran selama masa gencatan senjata.
Gencatan senjata kedua belah pihak berjalan selama 32 jam. Penghentian serangan dimulai pada Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4) pada penghujung hari.
Kesepakatan gencatan senjata Paskah Ortodoks pertama kali diusulkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa pekan lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujuinya pada Kamis (9/4).
Usai gencatan senjata resmi berakhir, militer Ukraina langsung merilis info pelanggaran nan diklaim dilakukan oleh Rusia.
“Per pukul 22.00 pada Minggu, ada 7.669 pelanggaran nan kami catat dilakukan oleh musuh,” kata militer Ukraina melalui akun FB resminya, seperti dikutip dari AFP.
“Rusia telah mematuhi gencatan senjata sampai pemisah tertentu, sembari melanjutkan operasi tempur di sektor-sektor tertentu, termasuk penggunaan drone FPV dan drone kamikaze,” tambahnya.
Terpisah, Kementerian Pertahanan Rusia menuding Ukraina melakukan nyaris dua ribu pelanggaran gencatan senjata.
“Sebanyak 1.971 pelanggaran gencatan senjata oleh unit-unit angkatan bersenjata Ukraina tercatat antara pukul 16.00 waktu Moskow pada 12 April dan pukul 08.00 pada 13 April,” kata Kementerian Pertahanan Rusia.
Adapun Presiden Zelensky sebenarnya telah mengusulkan perpanjangan gencatan senjata pada Sabtu malam. Ia menegaskan permintaan tersebut telah disampaikan secara resmi kepada Rusia.
Merespons Zelensky, ahli bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak permintaan tersebut. Ia menegaskan perpanjangan hanya dapat terwujud jika Ukraina memenuhi sejumlah persyaratan nan diajukan Rusia.
“Sampai Zelensky mengumpulkan keberanian untuk memikul tanggung jawab ini, operasi militer unik bakal bersambung setelah gencatan senjata berakhir,” ujar Peskov.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·