Ilustrasi(Magnific)
KONDISI ekonomi global, lonjakan biaya hidup, serta menyusutnya lowongan kerja tingkat pemula (entry-level) telah mengubah total langkah pandang Generasi Z (Gen Z) terhadap uang. Sebuah survei finansial terbaru berjudul Money Study nan dirilis oleh Wells Fargo mengungkapkan kebanyakan anak muda berumur 18 hingga 28 tahun sekarang menghadapi tekanan finansial nan sangat besar.
Bahkan, nyaris separuh dari responden Gen Z dalam studi tersebut tanpa ragu menggambarkan kehidupan finansial mereka saat ini dengan satu kata: "berantakan".
Masih Bergantung pada Orangtua
Realitas pahit ini memaksa banyak dari mereka untuk tetap bersandar pada keluarga. Survei tersebut menunjukkan 64% orangtua mengaku tetap memberikan support finansial kepada anak-anak mereka nan sudah masuk kategori usia Gen Z dewasa. Bantuan tersebut umumnya digunakan untuk menutupi kebutuhan pokok, seperti biaya tempat tinggal dan pengeluaran sehari-hari.
Namun, kejadian ini bagai buah simalakama. Sebanyak 56 persen orang tua mengaku bahwa beban finansial tambahan untuk menyokong anak-anak mereka nan beranjak dewasa ini mulai memberikan tekanan dan mengganggu stabilitas finansial mereka sendiri.
Emily Irwin, kepala perencanaan kekayaan pribadi di Wells Fargo, memberikan pandangannya mengenai dinamika ini.
"Tidak mengherankan jika orang dewasa muda bersandar pada family dan sumber nontradisional untuk mendapatkan dukungan, tetapi dinamika ini juga memberikan tekanan pada orang tua," kata Emily Irwin dalam siaran persnya.
Oleh lantaran itu, Irwin menekankan pentingnya komunikasi nan transparan di dalam keluarga. "Komunikasi nan terbuka, angan nan jelas, dan perencanaan berbareng dapat membantu family melewati tahapan ini bersama-sama," lanjutnya.
Memilih Side Hustle Demi Bertahan Hidup
Untuk menyiasati situasi pelik tersebut, Gen Z tidak tinggal diam. Alih-alih mengandalkan satu pekerjaan kantoran konvensional, mereka lebih memilih membangun pekerjaan melalui metode nontradisional. Sepertiga dari responden dalam studi Wells Fargo mengaku mengambil pekerjaan sampingan (side hustle) sepanjang tahun lampau demi menambah pemasukan.
Kendati sebagian anak muda menyukai kebebasan dan elastisitas nan ditawarkan oleh ekosistem kerja lepas (gig economy), bagi kebanyakan Gen Z, mempunyai beberapa pekerjaan sekaligus bukanlah sebuah pilihan style hidup nan mereka inginkan, melainkan sebuah keharusan absolut agar mereka tetap bisa memperkuat hidup di tengah krisis biaya hidup. (Parents/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·