Jutaan Gen Z takut menikah bukan lantaran pengalaman buruk, tapi lantaran pengalaman jelek orang lain nan terus diputar di beranda mereka. Dari mana semua itu datang? Bukan dari pengalaman sendiri. Tapi dari ribuan video nan sudah dikonsumsi sejak pertama kali memegang smartphone. Tanpa sadar, Gen Z dibesarkan oleh trauma orang lain dan sekarang trauma itu terasa seperti milik mereka sendiri. Inilah nan terjadi pada generasi kita. Coba buka TikTok alias IG Reels sekarang. Scroll selama lima menit. Berapa banyak konten tentang pasangan toxic, pernikahan nan hancur, atau “red flags” suami-istri nan muncul di beranda kamu? Kalau lebih dari tiga, Anda tidak sendirian. Inilah realita nan dihadapi Generasi Z hari ini. Sebelum mereka sempat mengalami sendiri apa itu hubungan serius, algoritma sudah lebih dulu menyuapi mereka dengan ratusan cerita tentang sungguh berbahayanya pernikahan. “Marriage is scary” Kalimat itu bukan sekadar tren, itu sudah jadi semacam kepercayaan berbareng apalagi bagi mereka nan belum pernah bercintaan sekalipun. Perlu ditegaskan, banyak sekali konten tentang pernikahan nan kandas dan itu nyata adanya. Ada wanita nan betul-betul terjebak dalam pernikahan nan menyakitkan. Ada pasangan nan dikhianati. Ada rumah tangga nan acak-acakan lantaran keputusan tergesa-gesa. Masalahnya bukan pada kisah itu sendiri, tapi algoritma hanya menampilkan satu sisi dan kebetulan sisi itu adalah nan paling dramatis, paling memicu emosi, dan paling banyak ditonton. Platform media sosial dirancang untuk satu tujuan utama ialah membikin penggunanya terus scrolling. Konten nan memicu rasa takut, marah, alias ngeri terbukti paling efektif mencapai tujuan itu. Hasilnya? Generasi Z dibesarkan oleh feed nan secara sistematis overdosis pada trauma pernikahan orang lain. Ada istilah psikologis nan relevan di sini ialah vicarious trauma. Ini adalah kondisi di mana seseorang mengalami akibat psikologis bukan dari pengalaman langsung, melainkan dari menyaksikan alias mendengar pengalaman traumatis orang lain secara terus-menerus. Generasi Z adalah generasi pertama nan mengalami vicarious trauma dalam skala industri. Mereka belum menikah, apalagi banyak nan belum pernah bercintaan serius tapi mereka sudah membawa beban ketakutan dari ratusan video tentang pernikahan orang lain nan hancur. Anehnya otak manusia tidak selalu bisa membedakan antara pengalaman nan dialami sendiri dengan pengalaman nan disaksikan berulang kali. Ketakutan itu terasa nyata lantaran otak kita memang memprosesnya seperti nyata. Banyak dari mereka tumbuh menyaksikan bentrok orang tua. Banyak nan sadar bahwa perlindungan norma terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga tetap jauh dari cukup. Banyak nan memandang wanita di sekitar mereka kehilangan pekerjaan dan mimpi setelah menikah. Ketakutan-ketakutan itu sah dan beralasan, nan perlu dikritisi bukan ketakutannya, melainkan dari mana ketakutan itu berasal dan apakah proporsinya akurat. Jika seseorang takut menikah lantaran dia merefleksikan pengalaman hidupnya secara mendalam, itu adalah ketakutan nan lahir dari pemikiran. Tapi jika seseorang takut menikah semata lantaran FYP-nya dikuasai konten “suami toxic” selama enam bulan berturut-turut, itu adalah ketakutan nan dibentuk oleh algoritma, bukan oleh realita. Keduanya terasa sama. Tapi sumbernya sangat berbeda. Platform media sosial jelas diuntungkan lantaran konten drama dan trauma adalah mesin engagement nan tak pernah kehabisan bahan bakar. Bahkan industri self-help dan terapi online diuntungkan, semakin banyak orang merasa takut dan “rusak”, semakin besar pasar untuk produk pengobatan mereka. Tidak ada persekongkolan besar di sini, tidak ada pihak nan sengaja merencanakan kehancuran tentang pernikahan. nan ada hanyalah insentif ekonomi nan secara sistematis mengarah pada satu hasil ialah konten tentang pernikahan nan menakutkan lebih menguntungkan daripada konten tentang pernikahan nan senang dan biasa-biasa saja. Terkadang pernikahan nan sehat antara dua orang nan saling menghormati, tumbuh bersama, berdebat lampau berdamai, membosankan di hari tertentu dan berarti di momen-momen sulit, itu tidak punya nilai konten nan tinggi. Tidak ada nan bakal menonton video tujuh menit tentang pasangan suami istri nan menyelesaikan perbedaan pendapat dengan komunikasi nan dewasa dan tenang. Tidak ada nan bakal membagikan konten tentang dua orang nan pilih untuk terus berbareng bukan lantaran terpaksa, tapi lantaran mereka terus memilih satu sama lain setiap harinya. Konten itu ada, tapi algoritma tidak mempromosikannya. Maka nan tersisa di feed kita adalah dua ekstrem antara cinta nan sempurna dan tidak realistis, alias pernikahan nan hancur dan mengerikan. Tidak ada ruang untuk nan di tengah untuk nan nyata. Saya percaya Generasi Z adalah generasi nan lebih kritis dan lebih berani mempertanyakan norma dibanding generasi sebelumnya. Tapi kekuatan itu hanya berfaedah jika diarahkan dengan tepat termasuk untuk mempertanyakan narasi nan disodorkan media sosial itu sendiri. Pertanyaan nan semestinya diajukan bukan hanya “apakah pernikahan itu scary?” tapi juga “Mengapa FYP-ku penuh dengan konten nan mengatakan iya?” dan “Siapa nan diuntungkan dari ketakutanku ini?”. Menikah alias tidak menikah adalah pilihan nan sangat personal. Tapi pilihan itu semestinya lahir dari refleksi nan jujur bukan dari maraton konten trauma di TikTok. Media sosial tidak bakal berubah dengan sendirinya. Algoritma tidak bakal tiba-tiba mempromosikan konten tentang pernikahan nan sehat dan biasa-biasa saja lantaran itu tidak menghasilkan uang, nan bisa berubah adalah langkah kita mengonsumsinya. Sadari bahwa For You Page bukan cermin dari realita. Ia adalah cermin dari apa nan paling banyak diklik dan keduanya adalah perihal nan sangat berbeda. Cari cerita pernikahan dari orang-orang nan Anda kenal langsung. Bicara dengan pasangan nan sudah lama bersama. Tanyakan gimana mereka melewati masa-masa sulit. Refleksikan nilai-nilaimu sendiri. Karena keputusan tentang apakah Anda mau menikah alias tidak terlalu besar dan terlalu krusial untuk diserahkan kepada algoritma.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·