Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Alejandro Betancourt Lopez mendadak menjadi sorotan dunia. Ini setelah perusahaannya, North American Blue Energy Partners (NABEP), berada di pusat kesepakatan minyak raksasa antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Presiden Donald Trump apalagi menyebut kesepakatan tersebut sebagai "kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah". Melalui kesepakatan tersebut, NABEP memperoleh kewenangan selama 100 tahun untuk mengelola 17 ladang minyak Venezuela dengan persediaan terbukti sekitar 65 miliar barel, di mana AS juga memperoleh kewenangan kepemilikan sebesar 35% di perusahaan tersebut.
Di kembali perusahaan nan sebelumnya relatif tidak dikenal di luar Venezuela itu terdapat Betancourt, pengusaha minyak Venezuela berumur 46 tahun nan mempunyai kekayaan sekitar US$2,6 miliar (Rp45,8 triliun). Namun, perjalanan upaya Betancourt tidak sepenuhnya mulus.
Ia mempunyai sejarah panjang berbisnis dengan pemerintah Venezuela sejak era mendiang Presiden Hugo Chavez. Di sisi lain, namanya juga pernah muncul dalam beragam penyelidikan mengenai dugaan korupsi dan pencucian uang.
Namun Betancourt hingga sekarang membantah melakukan pelanggaran. Ia pun tidak pernah dinyatakan bersalah dalam perkara pidana.
Berawal dari Krisis Listrik Venezuela
Mengutip sejumlah laman Kamis (10/9/2026), Betancourt lahir di Caracas pada Februari 1980 dari family kelas menengah. Ia kemudian menempuh pendidikan di Suffolk University, Boston, AS.
Karier bisnisnya mulai berkembang ketika Venezuela mengalami krisis listrik pada 2009. Saat itu, Betancourt berbareng sejumlah mitranya mendirikan perusahaan teknik Derwick Associates.
Perusahaan tersebut kemudian mendapatkan 12 perjanjian pemerintah tanpa proses tender dengan nilai total sekitar US$5 miliar. Betancourt dan para pengusaha muda lain nan memperoleh untung dari upaya dengan pemerintah Venezuela kemudian mendapat julukan "bolichicos", campuran dari kata Bolivarian dan "chico" alias anak muda.
Label tersebut ditolak oleh pengacara Betancourt nan menyebut istilah itu sebagai julukan media untuk golongan pengusaha muda nan sukses. Namun, Derwick kemudian menghadapi tuduhan dari golongan antikorupsi.
Transparency Venezuela pada 2018 memperkirakan 11 proyek nan diberikan kepada Derwick semestinya hanya memerlukan biaya sekitar US$2,1 miliar. Jika kalkulasi tersebut akurat, pemerintah Venezuela disebut telah bayar sekitar 138% lebih tinggi dari biaya nan seharusnya.
Tim norma Betancourt membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai upaya pencemaran nama baik bermotif politik.
Bisnis Makin Besar, Masalah Ikut Membesar
Bisnis Betancourt kemudian berkembang jauh melampaui sektor daya Venezuela. Pada pertengahan 2010-an, dia masuk ke upaya internasional, termasuk menjadi pemegang saham kebanyakan sekaligus presiden perusahaan kacamata asal Spanyol, Hawkers.
Ia juga mengakuisisi sejumlah entitas perbankan di Swiss dan Afrika. Menurut investigasi Transparency Venezuela, jaringan upaya Betancourt sekarang mencakup sekitar 50 perusahaan nan tersebar di 16 negara.
Namun, ekspansi tersebut juga diikuti beragam persoalan hukum. Otoritas di Spanyol, Swiss, Andorra, dan AS pernah membuka penyelidikan terhadap Betancourt dan sejumlah pengusaha Venezuela lainnya mengenai dugaan skema korupsi nan berasosiasi dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA.
Betancourt tidak didakwa dalam perkara-perkara tersebut dan membantah melakukan kesalahan. Pada 2025, dia apalagi dua kali ditahan polisi Inggris di London.
Tidak lama kemudian, otoritas Spanyol menggeledah sebuah properti mewah miliknya di Toledo. Kedua tindakan tersebut dilaporkan berangkaian dengan penyelidikan dugaan pencucian duit nan dimulai oleh jaksa Swiss.
Meski demikian, pada Mei 2026 pengadilan Inggris mencabut pembatasan perjalanan terhadap Betancourt. Hal ini dilakukan setelah Swiss menarik permintaan ekstradisinya.
Kini Berada di Pusat Kesepakatan Trump
Terlepas dari kontroversi masa lalunya, Betancourt sekarang justru menjadi salah satu figur paling krusial dalam strategi daya pemerintahan Trump di Venezuela. Pemerintah AS membentuk kemitraan dengan NABEP untuk mengembangkan ladang-ladang minyak Venezuela.
Gedung Putih menyebut kesepakatan itu bakal memberikan AS kendali kebanyakan atas lebih dari 65 miliar barel persediaan minyak terbukti Venezuela. NABEP sendiri bakal menjadi operator utama proyek tersebut.
Reuters melaporkan pemerintah AS memperoleh posisi 35% di NABEP melalui sistem penny warrants, nan dirancang untuk mencegah kepemilikan AS terdilusi ketika perusahaan mencari tambahan modal. Pentagon juga mendapatkan kewenangan penawaran pertama untuk membeli minyak NABEP.
Betancourt mengatakan kesepakatan tersebut bakal membantu mengembangkan potensi sumber daya Venezuela. Washington sendiri menilai Betancourt dipilih lantaran mempunyai pengalaman meningkatkan produksi minyak di Venezuela.
Menurut Gedung Putih, NABEP saat ini telah memproduksi sekitar 250.000 barel minyak per hari dan diharapkan bisa meningkatkan produksi secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Namun, kesepakatan tersebut tetap memicu pertanyaan mengenai transparansi dan masa lampau Betancourt.
The Washington Post melaporkan NABEP berencana mencari hingga US$10 miliar dalam corak pembayaran di muka dari perusahaan-perusahaan perdagangan minyak untuk membiayai ekspansi bisnisnya. Dengan demikian, Betancourt sekarang berada pada posisi nan sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Pengusaha nan pernah menghadapi penyelidikan di beragam negara itu sekarang berada di pusat proyek daya strategis nan memberikan Amerika akses terhadap salah satu persediaan minyak terbesar di dunia.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
21 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·