Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah populasi masyarakat Jepang dilaporkan telah merosot tajam hingga lebih dari 3 juta jiwa selama kurun waktu lima tahun terakhir, Jumat (29/5/2026). Penurunan drastis berasas statistik resmi pemerintah ini semakin menegaskan sungguh dalamnya krisis demografi nan sekarang tengah mempercepat penyusutan negara tersebut.
Mengutip CNBC International, hasil awal sensus menunjukkan bahwa total populasi Jepang berada di nomor 123 juta jiwa pada tahun lalu, turun signifikan dari nomor 126,1 million jiwa pada tahun 2020. Penurunan ini tercatat sebagai kemerosotan terbesar sepanjang sejarah sejak pemerintah Jepang pertama kali mengumpulkan info sensus pada tahun 1920 silam.
Populasi Negeri Sakura sendiri sebenarnya sempat mencapai puncaknya pada tahun 2008 dengan jumlah 128 juta jiwa, namun sekarang diproyeksikan bakal terus ambruk hingga menyisakan 87 juta jiwa saja pada tahun 2070. Kondisi saat ini membikin ukuran jumlah masyarakat negara tersebut menyusut kembali ke skala nan sama seperti pada tahun 1989.
Selama beberapa dekade, otoritas Jepang telah mencoba mengimbangi populasi nan menua dengan sigap melalui beragam program nan mendorong kaum muda untuk mempunyai lebih banyak anak. Namun, upaya tersebut dinilai kandas total dan meninggalkan negara itu dengan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia, di mana untuk setiap satu kelahiran baru, terdapat dua kematian nan terjadi.
Jepang sekarang menjadi peringatan awal bagi tantangan demografi nan bakal segera melanda negara-negara maju lainnya. Penyusutan populasi ini terpantau sudah mulai menghalang pertumbuhan ekonomi Jepang, memberikan tekanan berat pada sistem jasa kesehatan, hingga menyebabkan kelangkaan tenaga kerja nan akut.
Data sensus menunjukkan bahwa krisis demografi ini telah menjangkau nyaris seluruh wilayah Jepang, di mana 45 dari 47 prefektur melaporkan penurunan populasi tahun lampau dengan tingkat penurunan nan kian terakselerasi. Wilayah utara seperti Prefektur Akita dan Aomori menjadi area nan paling terpukul dengan penyusutan masyarakat mencapai 8% dari tahun 2020 hingga 2025 akibat bayaran nan stagnan, musim dingin nan keras, serta eksodus kaum muda ke kota besar.
Pedesaan Jepang sekarang semakin kosong lantaran penduduknya menua dan kaum muda pergi mencari pekerjaan di Tokyo, Osaka, maupun Nagoya. Di beberapa wilayah pedesaan, gedung sekolah dialihfungsikan menjadi panti jompo dan pusat komunitas, jutaan rumah terbengkalai kosong, instansi pemerintah serta rumah sakit memperkecil skala operasional, hingga jalur kereta api nan terpaksa ditutup.
Membuka pintu Jepang lebih lebar bagi penduduk asing dinilai bisa membantu mengimbangi penurunan ini, namun pemerintah setempat telah lama mengambil pendekatan nan sangat hati-hati terhadap imigrasi. Ditambah lagi, politisi dan komentator nasionalis baru-baru ini semakin mendapatkan pengaruh luas dengan agenda "Jepang Pertama".
Terkait kejadian tersebut, James Raymo nan merupakan seorang guru besar sosiologi di Princeton University nan mempelajari negara Jepang memberikan pandangannya.
"Jepang sekarang telah mencapai tingkat di mana penurunan semacam ini tidak dapat dipulihkan dalam jangka pendek alias menengah. Hal itu tidak bakal terjadi tanpa adanya imigrasi massal," kata Raymo.
Meski demikian, terdapat sedikit titik terang dalam sensus tersebut, termasuk di Okinawa, sebuah rantai pulau subtropis di selatan di mana populasinya tumbuh sedikit. Okinawa tercatat mempunyai tingkat kesuburan tertinggi di Jepang dengan rata-rata wanita melahirkan 1,5 anak seumur hidup mereka, dibandingkan dengan rata-rata nasional nan hanya 1,1 anak.
Kota-kota terbesar di Jepang juga tetap sukses menahan penurunan demografi untuk saat ini, di mana populasi wilayah metropolitan Tokyo tumbuh tipis menjadi 37 juta jiwa pada tahun 2025 dan menyumbang sekitar 30% dari total populasi Jepang. Pertumbuhan Tokyo nan sekarang 20 kali lebih padat dari wilayah Jepang lainnya ini didorong oleh membanjirnya mahasiswa dan pekerja muda nan mencari kesempatan kerja serta pendidikan.
Penderitaan Jepang diprediksi bakal semakin memburuk dalam beberapa dasawarsa mendatang lantaran bakal semakin susah menemukan pekerja untuk staf sekolah, rumah sakit, departemen kepolisian, hingga stasiun kereta. Negara ini juga terancam kekurangan generasi muda nan produktif untuk bayar pajak nan diperlukan guna menopang para pensiunan.
Lebih lanjut, Raymo menilai bahwa upaya pemerintah Jepang selama ini untuk meningkatkan kesuburan alias nomor kelahiran sama sekali belum membuahkan hasil nan berarti. Namun di sisi lain, dia juga menyampaikan bahwa situasi susah nan dihadapi Jepang saat ini pada akhirnya dapat memberikan pelajaran berbobot bagi pemerintah negara-negara lain di dunia.
"Semakin banyak negara di Asia dan tempat lain nan bakal mengalami tingkat penurunan demografi nan serupa. Jepang hanya berada di garis depan dan telah menghadapinya jauh lebih lama," pungkas Raymo.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·