Freeport Ramal Bisa Setor Rp54 Triliun ke Negara di 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi perusahaan terhadap penerimaan negara mencapai US$ 2,9 miliar alias Rp 54 triliun pada tahun 2026. Target setoran tersebut didorong oleh rencana kenaikan volume produksi tembaga dan emas seiring dengan proses pemulihan operasional tambang bawah tanah perusahaan.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan nilai kontribusi tersebut terdiri dari setoran pajak badan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hingga dividen. Ia menyebut proyeksi ini menggunakan dugaan nilai emas sebesar US$ 4.000 per ounces, meskipun saat ini nilai emas di pasar dunia sudah melampaui nomor tersebut.

"Dengan dugaan 4.000 dolar tahun ini rencana penerimaan negara bakal bisa US$ 2,9 miliar alias sekitar Rp 54 triliun. Dan di dalamnya ada pajak US$ 1,2 miliar, ada PNBP US$ 600 juta, dan ada dividen juga untuk MIND ID sebesar US$ 1 miliar alias sekitar Rp 17 triliun," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Nilai setoran tersebut diprediksi bakal mengalami kenaikan pada tahun-tahun berikutnya. Tony memproyeksikan pada tahun 2027 total penerimaan negara dari Freeport bakal tumbuh menjadi US$ 4,3 miliar setara Rp 73,68 triliun (asumsi kurs Rp 17.137 per US$) . Bahkan diperkirakan bisa terus bertumbuh hingga US$ 6 miliar setara Rp 102,82 triliun pada periode 2028-2029 mendatang.

"Di 2027 bakal meningkat totalnya menjadi US$ 4,3 miliar alias ini nyaris Rp 70 triliun dan 2028 dan seterusnya sekitar US$ 6 miliar. US$ 6 miliar ini sekitar Rp 100 triliun setiap tahunnya dalam corak pajak, PNBP, dan juga dividen bagi negara," paparnya.

Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut, perusahaan berencana meningkatkan kapabilitas penambangan bijih menjadi 156.000 ton per hari pada 2026. Produksi katoda tembaga ditargetkan mencapai 1,1 miliar pound, sementara produksi emas batangan diproyeksikan sebesar 26 ton nan seluruhnya bakal dibeli oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

"Jadi jika dilihat di proyeksi penambangan bijih di diagram di sebelahnya itu ada di tahun 2025 ini kami hanya menambang 139.000 ton bijih per hari dan di 2026 156.000 ton bijih per hari," kata Tony.

Saat ini perusahaan tetap konsentrasi melakukan upaya pemulihan (recovery) pada area Grasberg Block Caving nan terdampak hambatan teknis longsoran tahun lalu. Perusahaan tengah melakukan peningkatan produksi (ramp up) secara berjenjang dan memastikan seluruh prasarana pertambangan bawah tanah tetap kondusif bagi pekerja.

"Rencananya bakal melakukan ramp up mulai dari bulan Mei sampai dengan kuartal pertama 2027 baru kami bakal mulai mengoperasikan Production Block 1 nan memang high grade," pungkasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News