Ilustrasi(Dok Istimewa)
Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketidakpastian ekonomi global, pendapat ekonomi hijau semakin menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi wacana akademik. Indonesia sekarang berada di titik krusial untuk menentukan arah pembangunan masa depan, pilihannya tetap bertumpu pada pola ekonomi lama nan eksploitatif, alias mulai bertransisi menuju model pembangunan nan lebih berkelanjutan, inklusif, dan resilien.
Kesadaran inilah nan mendorong Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) menginisiasi lahirnya Forum Ekonomi Hijau (FEH), sebuah forum kolaboratif lintas sektor untuk memperkuat dialog, gagasan, dan sinergi menuju pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Forum ini bakal diluncurkan pada 17 Juni 2026 di Jakarta dan menghadirkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, pengambil kebijakan, pelaku industri, serta organisasi masyarakat sipil.
Secara global, konsep ekonomi hijau telah menjadi perhatian utama banyak negara. United Nations Environment Programme (UNEP) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai “ekonomi nan meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sembari secara signifikan mengurangi akibat lingkungan dan kelangkaan ekologis.” Definisi tersebut menjadi fondasi beragam kebijakan ekonomi hijau sejak awal dipublikasikan melalui laporan Towards a Green Economy pada 2011.
World Bank juga memperkenalkan pendekatan ekonomi nan dikenal dengan inclusive green growth, ialah ekonomi nan efisien dalam penggunaan sumber daya alam, minim polusi, serta handal menghadapi perubahan lingkungan dan akibat bencana. Meski mempunyai pendekatan berbeda, nyaris seluruh konsep ekonomi hijau mempunyai benang merah nan sama: pertumbuhan ekonomi kudu tetap berjalan, namun tanpa mengorbankan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Dalam konteks Indonesia, urgensi ekonomi hijau menjadi semakin nyata. Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam, rimba tropis, potensi daya baru terbarukan, serta bingkisan demografi nan dapat menjadi modal besar menuju ekonomi masa depan. Namun di sisi lain, Indonesia juga menghadapi ancaman serius berupa banjir, krisis air, polusi udara, kerusakan hutan, cuaca ekstrem, hingga ketergantungan ekonomi pada pemanfaatan sumber daya alam mentah.
Ketua Dewan Pembina IKA Unpad, Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A., menilai bahwa Indonesia tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk menunda transformasi menuju ekonomi berkelanjutan. “Biaya mempertahankan model pembangunan lama hari ini sebenarnya sudah jauh lebih mahal dibandingkan biaya untuk bertransisi menuju ekonomi hijau. Kita kudu memandang ekonomi hijau bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan besar menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, lapangan kerja baru, sekaligus menjaga keberlanjutan bangsa,” ujarnya.
Menurut Burhanuddin, transisi menuju ekonomi hijau juga bakal menentukan daya saing Indonesia di tingkat global. Dunia internasional saat ini semakin menuntut praktik pembangunan dan industri nan lebih rendah karbon, lebih efisien dalam penggunaan energi, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. “Ke depan, negara nan bisa beradaptasi dengan ekonomi hijau justru bakal menjadi pemenang ekonomi dunia. Indonesia punya modal besar untuk itu, tetapi dibutuhkan kerjasama lintas sektor agar transformasi ini tidak melangkah parsial,” jelas Burhanuddin Abdullah.
Gagasan mengenai pentingnya kerjasama lintas sektor inilah nan kemudian menjadi dasar lahirnya Forum Ekonomi Hijau. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IKA Unpad, Yhodhisman Soratha, S.IP., M.H., menjelaskan bahwa forum ini diinisiasi sebagai ruang strategis untuk mempertemukan beragam perspektif dalam merumuskan masa depan pembangunan Indonesia. “Forum Ekonomi Hijau diharapkan menjadi ruang perbincangan nan terbuka dan produktif antara pemerintah, akademisi, bumi usaha, komunitas, hingga generasi muda. Tantangan keberlanjutan tidak mungkin diselesaikan oleh satu sektor saja,” kata Yhodhisman.
Ia menambahkan, pada tahap awal Forum Ekonomi Hijau bakal diluncurkan sebagai bagian dari ekosistem IKA Unpad. Namun dalam jangka panjang, forum ini diharapkan dapat berkembang menjadi platform independen nan membuka ruang obrolan publik lebih luas mengenai kebijakan hijau, penemuan berkelanjutan, serta transformasi ekonomi Indonesia. “IKA Unpad mau mengambil peran strategis sebagai katalisator kolaborasi. Kampus mempunyai kekuatan pengetahuan, alumni mempunyai jejaring lintas sektor, dan masyarakat memerlukan ruang obrolan nan sehat mengenai masa depan pembangunan kita,” lanjutnya.
Peluncuran Forum Ekonomi Hijau nantinya juga bakal menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan master untuk berbincang mengenai formula terbaik penerapan ekonomi hijau di Indonesia. Di antaranya Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si., Menteri Koperasi RI sekaligus Ketua Umum IKA Unpad; Purbaya Yudhi Sadewa, S.T., M.Sc., Ph.D., Menteri Keuangan RI; Drs. Moh. Jumhur Hidayat, M.Si., Menteri Lingkungan Hidup RI; Dr. Tasdiyanto Rohadi, Dewan Pakar Bidang Lingkungan Hidup IKA Unpad; Prof. Dr. Ir. Laode Masihu Kamaluddin, M.Sc., M.Eng., Alumni MIPA Unpad/Mantan Rektor UICI; dan Masyita Crystalin, Ph.D., Head of Economics, Portfolio Alignment & Sustainability Danantara Indonesia, serta sejumlah master lainnya.
Ketua Pelaksana Forum Ekonomi Hijau sekaligus Corporate Transformation Group Head PT Angkasa Pura Indonesia, Dr. Ferdian Agustiana, menilai bahwa pembicaraan mengenai ekonomi hijau kudu mulai diterjemahkan menjadi langkah nyata dan terukur. “Selama ini kita sering berbincang tentang keberlanjutan dalam level konsep. Padahal tantangan nan kita hadapi sudah sangat konkret. Karena itu Forum Ekonomi Hijau mau mendorong lahirnya obrolan nan lebih aplikatif, kolaboratif, dan menghasilkan rekomendasi nyata,” ujarnya.
Ferdian juga menekankan bahwa ekonomi hijau tidak hanya berbincang tentang lingkungan, tetapi juga tentang kualitas hidup masyarakat dan masa depan ekonomi nasional. “Ekonomi hijau bukan berfaedah menghentikan pertumbuhan ekonomi. Justru sebaliknya, ini tentang gimana pertumbuhan ekonomi dapat melangkah lebih cerdas, lebih efisien, lebih inklusif, dan tidak menciptakan biaya lingkungan nan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Menurutnya, Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi hijau dunia andaikan bisa memanfaatkan momentum transisi energi, pengembangan industri hijau, hilirisasi berkelanjutan, hingga penemuan berbasis teknologi ramah lingkungan.
Melalui Forum Ekonomi Hijau, IKA Unpad berambisi lahir lebih banyak diskusi, kolaborasi, dan aktivitas berbareng untuk mendorong pembangunan Indonesia nan tidak hanya bertumbuh secara ekonomi, tetapi juga bisa menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance / ESG) untuk keberlanjutan jangka panjang.
“Peluncuran forum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari nomor pertumbuhan ekonomi semata. Di tengah tantangan perubahan suasana dan ketidakpastian global, keberhasilan sebuah bangsa juga ditentukan oleh keahlian menjaga bumi tetap layak dihuni bagi generasi mendatang,” pungkas Yhodisman.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·