Ilustrasi pendidikan dasar(Dok.Kemendikdasmen)
WARTAWAN Media Indonesia Despian Nurhidayat melakukan wawancara unik dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti mengenai progres dan akibat program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka seperti Sekolah Terintegrasi Nasional, Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat terhadap mutu pendidikan dasar dan menengah di Tanah Air menjelang seremoni ulang tahun ke-81 Republik Indonesia.
1. Baru-baru ini pemerintah meresmikan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), apa SNT ini dan gimana konsepnya?
Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) adalah bagian dari program prioritas Bapak Presiden untuk memberikan jasa pendidikan nan unggul bagi anak-anak Indonesia nan mempunyai keahlian dan talenta istimewa, di bagian akademik maupun di bagian olahraga, seni, dan bidang-bidang kelebihan lainnya. SNT ini didirikan di setiap kecamatan untuk semua jenjang. Tapi dalam perkembangannya kemudian beliau (Presiden Prabowo) membikin sebuah kebijakan bahwa SNT dibuka hanya satu setiap kabupaten untuk jenjang SMP dan SMA. Ke depan bakal dibangun di seluruh kabupaten dan kota secara bertahap. Tahun 2026 ini sudah mulai kita buka untuk 17 SNT di beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia.
Program nan secara konstitusional di dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional itu Pasal 5 ayat 4 nan menyebut bahwa anak-anak nan mempunyai keahlian dan talenta spesial berkuasa mendapatkan pendidikan khusus. Program ini ada amanatnya di dalam UU. Program ini dibuka dengan seleksi nan sangat ketat untuk para calon siswa dan gurunya dengan standar pembelajaran nan di atas rata-rata sekolah nasional pada umumnya.
2. Apa perbedaan SNT dengan Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda?
Secara umum memang masing-masing punya kekhususan. Sekolah Rakyat unik untuk anak-anak nan berasal dari family tidak mampu, dari desil 1 dan desil 2. Kemudian secara akademik mereka ini biasa saja. Kurikulumnya didesain dengan sistem kami menyebutnya dengan MEME alias Multi Entry Multi Exit. Jadi, mereka bisa masuk kapan saja dengan program-program dengan modul tertentu. Kalau sudah cukup dia bisa menamatkan pendidikan.
Kemudian nan Sekolah Unggul Garuda adalah sekolah nan memang dirancang dengan keunggulan-keunggulan. Kurikulumnya memang standar internasional dan memang highly selected, diseragamkan jumlahnya secara nasional. Hanya ada 20 di seluruh Indonesia selama rentang waktu 5 tahun. Kemudian ada lagi namanya Garuda Transformasi. Itu sebenarnya sekolah-sekolah nasional tapi diberikan muatan kurikulum lebih nan itu juga berasrama.
Sementara itu, SNT tidak berasrama dan mereka bisa berasal dari latar belakang ekonomi nan berbeda-beda beragam. Anak-anak disabilitas juga boleh dengan keahlian akademik di atas rata-rata. Bisa jadi kan mereka secara bentuk mungkin berkekurangan, tapi secara intelektual dia punya kelebihan.
SNT ini diperlukan sebagai pelengkap dari sekolah nan standar nan membuka sekolah inklusif. Sekolah-sekolah modern inklusif ini ada empat jalur dalam penerimaannya. Jalur domisili, jalur prestasi, jalur afirmasi, dan jalur mutasi. Untuk jalur afirmasi, anak-anak nan berkebutuhan khusus, nan difabel dan juga dari family tidak mampu, dan jalur mutasi itu jalur siswa nan diterima lantaran mengikuti tugas orangtuanya. Sedangkan untuk jalur prestasi, jumlahnya sangat terbatas sehingga banyak anak-anak nan punya keahlian akademik nan tinggi, ketika belajar di sekolah standar ini, tidak bisa berkembang secara maksimal.
Karena itu kan tetap ada ruang, anak-anak nan berkebutuhan unik ini belajar di sekolah luar biasa. Sekolah nan memang dikhususkan bagi mereka nan punya disabilitas itu. Kemudian SNT ini fokusnya pada mereka nan punya keunggulan-keunggulan ini.
SNT mengisi ruang kosong nan belum bisa disediakan oleh sekolah-sekolah standar. SNT menyediakan sekolah berbobot secara lebih merata, lantaran setiap kabupaten ada sekolah unggul.
3. Baru-baru ini juga Pendidikan Jarak Jauh diimplementasikan untuk 700 peserta didik, apakah ini dapat mengatasi persoalan anak tidak sekolah dalam jangka panjang?
Kami berupaya memberikan jasa pendidikan nan aksesibel, fleksibel, dan affordable. Layanan pendidikan nan dia memang mudah diakses, kemudian juga dia elastis dan pembiayaannya bisa ditanggung.
Kami memperkuat broad based education, di mana pembelajaran pendidikan itu tidak sebatas sekolah umum tapi juga sekolah non-formal. Banyak anak nan tidak bisa sekolah umum itu, tidak semuanya semata-mata lantaran argumen ekonomi. Sebagian dari mereka lantaran argumen waktu. Misalnya dia kudu bekerja alias jarak dari sekolah umum terlalu jauh lantaran mungkin di situ siswa tinggal di wilayah pulau dan sebagainya. Kemudian, bisa juga siswa didik mengalami kendala-kendala nan berkarakter kultural. Mereka sudah berfamili di usia muda dan sebagainya. Hal-hal tersebut nan membikin nomor tidak sekolah dan nomor putus sekolah kita ini tetap besar. Menurut info ada nan menyebut di atas 4 juta anak. Karena itu, kita mau membikin pendidikan ini menjadi aksesibel dan fleksibel. Kita memperkuat pendidikan tidak hanya jalur schooling, tetapi learning nan tadi mengembangkan broad based education dengan 5 model pendidikan.
Pertama pembelajaran jarak jauh, distance learning. Kedua program kesetaraan, ada kejar paket A, paket B, paket C. Paket A setingkat SD, paket B setingkat SMP, paket C setingkat SMA dan ini rupanya menjadi pilihan dari banyak kalangan termasuk kalangan dari profesional. Ketiga, melalui sekolah satu atap. Sekolah satu genting mirip sekolah terintegrasi ini tapi untuk masyarakat secara umum. Jadi SD, SMP, SMA alias SMP, SMA alias SMP, SD itu satu jadi satu dalam satu kompon seperti terintegrasi ini. Gurunya bisa multi-grade, jadi mereka bisa mengajar beberapa jenjang. Berikutnya, model-model sekolah terbuka nan memberikan kemudahan untuk mereka bisa belajar. Selain ada misalnya bentuknya community learning center, komunitas-komunitas belajar.
4. Dalam PJJ ini gimana langkah Kemendikdasmen mengatasi persoalan teknologi?
Kita berikan support untuk organisasi belajar dan juga mereka nan belajar PJJ ini kita berikan jaringan internetnya. Kita pakai Starlink. kita bantu, kita sediakan alatnya, kita bantu buku-bukunya.
5. Program Revitalisasi Sekolah di wilayah pascabencana gimana perkembangannya?
Di tiga provinsi nan terdampak bencana, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara itu, sudah selesai nyaris 100 persen. Karena kita kan sudah mulai pembangunannya di bulan Februari nan lalu. Bulan Februari sudah jalan dan itu jumlahnya nyaris 5 ribu. Totalnya nyaris 5 ribu.
Sebagian nan belum kita bangun itu lantaran belum ada lahannya. Karena menurut rekomendasi, sekolah itu kudu relokasi lantaran terletak di wilayah alias tempat nan tidak aman. Relokasi ini seringkali terkendala wilayah susah menemukan letak nan baru. Itu kita sediakan pendidikan di sekolah darurat nan bisa untuk digunakan selama 2 tahun.
Kedua, belum bisa relokasi lantaran masyarakat, orangtua dan siswa berkeberatan lantaran letak barunya jauh dari tempat tinggal. Hal nan seperti ini ada kendala-kendala teknis nan itu memang tidak bisa kami selesaikan sendiri. Lebih banyak berjuntai pada pemerintah daerah.
6. Berapa anggaran nan sudah digunakan dari program Revitalisasi Satuan Pendidikan?
Sudah Rp2 triliun lebih untuk 5 ribu sekolah. Bahkan sekarang ada tambahan lagi lantaran kemarin kita mengusulkan Anggaran Biaya Tambahan, sudah ada approval dari Kementerian Keuangan. InsyaAllah bisa kami terus gunakan, terutama sekolah nan kudu relokasi. Kita membangun unit sekolah baru. Biasanya biayanya juga lebih banyak. Contohnya SD, kudu menyediakan minimal untuk sebuah SD nan ideal itu 10 ruang kelas. Ruang kelasnya
kemudian ada ruang guru, ada perpustakaan, unit kesehatan sekolah dan toilet.
Lalu, sekolah-sekolah nan lenyap akibat musibah kudu dibangun baru.
7. Apa angan Anda untuk sektor pendidikan dasar menengah Indonesia di momentum kemerdekaan RI ini?
Pak Prabowo menyampaikan ke saya tentang makna pentingnya pendidikan dasar ini, lantaran gimana kita membangun sebuah rumah, pendidikan dasar ini adalah fondasi untuk pendidikan nan selanjutnya. Karena itu kami berupaya untuk pada tahun pertama ini meletakkan dasar-dasar nan kuat dalam mewujudkan pendidikan nan berbobot untuk semua. Mewujudkan generasi nan berkualitas, generasi nan unggul seperti nan disampaikan oleh Pak Presiden.
Kami meletakkan empat infrastruktur. Pertama physical infrastructure. Kita perbaiki sarana-sarana fisiknya dengan revitalisasi. InsyaAllah pada tahun ini, 2025-2026 ini kita sudah bakal selesai membangun revitalisasi untuk sekitar 90 ribu satuan pendidikan. Kemudian digitalisasi, program Pak Presiden tahun pertama untuk 286 ribu satuan pendidikan mendapatkan Interactive Flat Panel. Tahun ini sudah ditambah lagi masing-masing tiga. Jumlahnya IFP bervariasi, ada nan tiga, ada nan empat, tergantung dari jumlah ruang kelasnya.
Kemudian, fondasi lain ialah pedagogical infrastructure atau prasarana pedagogis. Kami melakukan dua kebijakan. Pertama, program nan mengenai dengan peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan pembimbing sehingga diharapkan pembimbing dapat mengajar lebih baik lagi. Kedua, mulai menerapkan pembelajaran mendalam. Sebuah pendekatan nan diharapkan dapat memperbaiki masalah nan sekarang tetap kita rasakan, misalnya learning loss, learning poverty sebagai akibat dari Covid-19, dan juga akibat-akibat lain dari beragam problem psikologis dan sosial anak-anak kita.
Ketiga itu cultural infrastructure alias prasarana budaya. Kota memperkuat pendidikan karakter. Kami mencoba membangun karakter melalui tujuh kebiasaan, bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, doyan belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Kedua program pagi ceria, di mana sebelum pembelajaran anak-anak ini menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menumbuhkan nasionalisme, kemudian senam anak Indonesia hebat, kemudian baru bermohon masuk kelas.
Berikutnya adalah program penguatan ekstrakurikuler, khususnya pramuka. Pramuka sekarang menjadi ekstrakurikuler wajib.
Keempat, kultur prasarana itu kita bangun dengan membangun budaya sekolah nan kondusif dan nyaman. Ini juga merupakan penjabaran dari kebijakan Pak Presiden, budaya ASRI. Kemudian kita kembangkan dengan sekolah nan kondusif dan nyaman, dengan membangun sekolah nan bebas dari segala macam kekerasan. Kami menerbitkan surat info Menteri nan mendukung PP Tunas tentang pembatasan penggunaan gawai.
Kami memandang gimana akibat negatif gawai itu sangat besar terhadap pembelajaran. Dampak nan sangat terasa itu misalnya ketagihan gawai dan attention span nan pendek. Anak-anak kita ini enggak bisa konsentrasi nan lama, enggak bisa fokus, lantaran sudah terpengaruh oleh tayangan-tayangan nan pendek. Bahkan, sebagian mengalami brain rot karena terlalu banyak mungkin melakukan <i>doom scrolling<p>.
Keempat yakni legal infrastructure. Berbagai izin nan mendorong peningkatan mutu. pendidikan Mulai memberlakukan tes keahlian akademik nan sifatnya tidak wajib, tetapi punya pengaruh besar dalam peningkatan mutu. Tes ini mendorong motivasi dan semangat belajar lebih tinggi di kalangan para murid. Kemudian, beragam patokan mengenai biaya support operasional sekolah (BOS) nan kami juga permudah. Selain itu, kami punya patokan baru tentang upacara sekarang wajib dilaksanakan hari Senin dan hari-hari besar nasional.
Pertama ada pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia. Itu setiap upacara dibaca. Ini merupakan translator dari pesan Pak Presiden untuk anak Indonesia ialah beriman, bertakwa kepada Tuhan nan Maha Esa, lampau menghormati dan mencintai orangtua dan guru, belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, rukun sama teman, dan mencintai tanah air Indonesia.
Ini dibaca setiap kali upacara bendera. Kemudian ada menyanyikan lagu, selain lagu-lagu nasional itu, ada lagu rukun sama kawan untuk mendorong sikap ramah. Mendorong perilaku nan baik dan juga hubungan nan lebih saling menghormati satu dengan nan lain. (Des/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·