FOMO dalam Budaya Digital: Mengapa Kita Sulit Mengabaikan Tren Viral?

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Photo : cottonbro studio on Pexels

Hampir setiap minggu selalu ada tren baru nan muncul di media sosial. Mulai dari tantangan, format video tertentu, hingga beragam konten nan ramai diperbincangkan oleh pengguna internet. Menariknya, tidak semua orang mengikuti tren tersebut lantaran merasa tertarik alias menyukainya. Dalam banyak kasus, orang ikut terlibat hanya lantaran tidak mau merasa tertinggal dari apa nan sedang ramai dibicarakan.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out alias FOMO, ialah emosi cemas ketika merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, alias aktivitas nan sedang dilakukan orang lain. Di era media sosial, FOMO menjadi semakin mudah muncul lantaran pengguna terus-menerus terpapar beragam tren nan muncul di linimasa mereka.

Media sosial memungkinkan info menyebar dengan sangat cepat. Ketika sebuah tren mulai viral, pengguna bakal memandang konten nan sama berulang kali dari beragam akun. Akibatnya, muncul kesan bahwa tren tersebut krusial untuk diketahui alias apalagi kudu diikuti. Tidak jarang seseorang nan awalnya tidak tertarik akhirnya ikut menonton, membagikan, alias membikin konten serupa hanya lantaran tidak mau merasa tertinggal dari percakapan nan sedang berlangsung.

Dari perspektif komunikasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory nan dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa perseorangan condong belajar melalui pengamatan terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika banyak orang terlihat mengikuti sebuah tren dan memperoleh perhatian dari publik, pengguna lain bakal terdorong untuk melakukan perihal nan sama. Akibatnya, tren terus menyebar dan memperkuat lebih lama di ruang digital.

Menurut saya, FOMO menjadi salah satu argumen kenapa beragam tren di media sosial dapat berkembang dengan sangat cepat. Banyak pengguna merasa perlu mengikuti apa nan sedang ramai agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya. Pada akhirnya, keputusan untuk mengikuti sebuah tren tidak selalu didasarkan pada minat pribadi, tetapi lebih lantaran kemauan untuk tetap terhubung dengan golongan alias percakapan nan sedang berlangsung.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfaedah sebagai sarana berbagi informasi, tetapi juga membentuk perilaku pengguna. Apa nan dianggap penting, menarik, alias layak diperhatikan sering kali dipengaruhi oleh apa nan sedang ramai muncul di linimasa. Semakin sering sebuah tren muncul, semakin besar pula kemungkinan pengguna menganggapnya sebagai sesuatu nan perlu diikuti.

Media sosial memang memberikan banyak faedah dalam memperluas akses info dan mempererat hubungan sosial. Namun, menurut saya, krusial bagi pengguna untuk menyadari bahwa tidak semua tren kudu diikuti. Kemampuan untuk memilih info secara kritis dan memahami argumen di kembali perilaku kita di media sosial menjadi semakin krusial di tengah arus konten nan bergerak begitu cepat. Tidak ada nan salah dengan mengikuti tren, tetapi tidak ada salahnya juga untuk sesekali memilih berakhir dan bertanya pada diri sendiri: apakah saya betul-betul tertarik, alias hanya takut tertinggal?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan