Film Animasi Masha and the Bear Terancam Dibatasi, Pengamat Rusia Sebut Mengandung Pesan Berbahaya

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Film Animasi Masha and the Bear Terancam Dibatasi, Pengamat Rusia Sebut Mengandung Pesan Berbahaya Pengamat politik Rusia Vadim Popov menyerukan pembatasan Masha and the Bear.(Dok. Prime Vidio)

KARTUN terkenal "Masha and the Bear" menuai kontroversi setelah pengamat politik Rusia, Vadim Popov, mendesak pembatasan penayangannya lantaran dianggap memberikan pengaruh buruk bagi anak-anak. Dalam wawancara pada Oktober 2025, Popov menyebut karakter Masha bertentangan dengan nilai-nilai tradisional Rusia, terutama mengenai penggambaran anak nan hidup tanpa orang tua.

Vadim Popov menyoroti pola asuh dan perilaku karakter utama nan dinilai tidak mendidik. Ia mengkritik gimana Masha digambarkan sebagai sosok nan manja, materialistis, dan sering kali bertindak semena-mena terhadap hewan-hewan di hutan.

“Produk ini semestinya tidak ditayangkan kepada anak-anak. Di dalamnya terdapat beragam makna rawan nan bertentangan dengan nilai tradisional Rusia,” ujar Popov sebagaimana dikutip dari laman Izvestia.

Salah satu poin keberatan Popov adalah segmen di mana Masha memaksa serigala untuk mengobatinya, nan dia interpretasikan sebagai corak kekejaman terhadap hewan. Selain itu, ketiadaan figur orang tua dalam kehidupan sehari-hari Masha dikhawatirkan memicu rasa keterasingan pada penonton anak-anak.

Meski menuai kritik tajam dari kalangan konservatif, "Masha and the Bear" tetap menjadi salah satu ekspor budaya Rusia nan paling sukses secara global. Namun, di dalam negeri, popularitasnya bersaing ketat dengan karakter klasik lainnya.

Berdasarkan info survei platform media di Rusia, berikut adalah tingkat kesukaan penduduk terhadap karakter animasi:

Karakter Animasi Persentase Suara
Cheburashka (Klasik Rusia) 18%
Shrek & Toothless (DreamWorks) 17%
Hare & Wolf (Nu, Pogodi!) 14%

Hingga saat ini, perdebatan mengenai konten edukasi dalam animasi tersebut tetap terus bergulir di tengah upaya Rusia memperkuat nilai-nilai budaya lokal dalam produk intermezo mereka. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia