Fenomena War Emas di Jakarta Bukan FOMO, Masyarakat Butuh Emas Fisik

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Fenomena War Emas di Jakarta Bukan FOMO, Masyarakat Butuh Emas Fisik

Kepercayaan masyarakat tetap lebih tinggi pada kepemilikan bentuk nan seringkali susah ditemukan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA — Antrean panjang dan keramaian pada gelaran Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Sabtu (15/2/2026), menarik perhatian publik.

Pengamat pasar duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kejadian tersebut bukan sekadar kepanikan sesaat alias FOMO (Fear of Missing Out), melainkan langkah logis masyarakat dalam merespons situasi ekonomi global. Menurutnya, penurunan nilai logam mulia dimanfaatkan penduduk untuk mengakumulasi aset sebagai instrumen investasi jangka panjang.

“Antrean ini bukan FOMO. Antrean ini adalah antrean nan sudah terbiasa terjadi, di mana pada saat nilai logam mulia mengalami penurunan, ini saat nan tepat untuk melakukan pembelian,” ujar Ibrahim, Senin (16/2/2026).

Ibrahim menjelaskan bahwa masyarakat saat ini sangat melek terhadap info global. Ketegangan di Timur Tengah, menyusul pengerahan kapal induk kedua Amerika Serikat nan bersiap menghadapi Iran, menjadi sirine bagi penanammodal untuk mencari aset kondusif (safe haven).

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut mendongkrak ekspektasi kenaikan nilai emas di masa depan. Faktor politik di Amerika Serikat, mulai dari pemilu sela hingga spekulasi kebijakan Bank Sentral (The Fed) di bawah kendali Kevin Warsh, menambah ketidakpastian nan justru menguntungkan nilai emas.

“Masyarakat tahu bahwa nilai logam mulia secara jangka pendek, menengah, dan panjang bakal mengalami kenaikan nan cukup signifikan. Wajar jika seandainya masyarakat saat ini kembali mencari aset nan kondusif sebagai lindung nilai,” ungkap Ibrahim.

Salah satu pemicu kericuhan di JCC adalah kemauan masyarakat untuk mempunyai emas secara bentuk secara langsung. Ibrahim menyoroti bahwa meski sistem bullion bank dan emas digital sudah tersedia, kepercayaan masyarakat tetap lebih tinggi pada kepemilikan bentuk nan seringkali susah ditemukan di gerai konvensional maupun pegadaian.

“Keinginan masyarakat di Jakarta Convention Center itu bisa membeli dan mendapatkan logamnya secara fisik. Selama ini masyarakat melakukan pembelian baik di gerai Antam maupun pegadaian itu tidak ada barangnya. Walaupun sudah ada bullion bank dan emas digital, masyarakat lebih condong memilih nan ada fisiknya,” jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com